20 Februari 2017
Empat
bulan sudah aku tinggal di Jakarta. Sebelumnya aku hanya banyak
mendengar kota ini dari televisi atau media sosial. Jakarta yang
katanya panas. Jakarta yang katanya macet. Jakarta yang katanya suka
kebanjiran. Jakarta yang katanya suka ada demo. Jakarta yang katanya
keras. Jakarta yang katanya banyak artisnya. Jakarta yang katanya
banyak gedung bertingkatnya. Yaa itulah segelintir kata yang timbul
di benakku tentang Jakarta, ibukota negara ini. Mungkin yang aku
katakan tadi memang benar. Namun ternyata tidak semua wilayah di
Jakarta demikian. Begitu pula di tempat aku tinggal sekarang yang
agak jauh dari keramaian.
27
Februari 2017
Kegiatan
sehari-hariku di sini yaitu bekerja. Aku bekerja di salah satu
perusahaan kosmetik Indonesia. Pergi pagi pulang sore lalu malamnya
istirahat. Kadang keluar jika weekend atau libur nasional. Yaa
begitulah keseharianku di sini, di Jakarta. Awalnya mungkin biasa
saja, tetapi lama kelamaan bosan juga yaa jika setiap hari demikian.
Aku ingat saat kuliah, ada Unit Kegiatan Mahasiswa ketika pulang
kuliah. UKM inilah yang bisa dijadikan sarana untuk menyalurkan hobi
atau berdiskusi (ngobrol sih lebbih tepatnya) dengan teman-teman dari
berbagai jurusan. Di sinilah aku dapat mengurangi kejenuhan selama
kuliah. Aku sempat berkeinginan untuk bergabung dengan
komunitas-komunitas yang ada di sekitar sini. Hanya saja aku masih
kurang informasi dan belum mendapat komunitas yang cocok di sini.
Aku
memang sudah berencana untuk melanjutkan kuliah ke S1. Tadinya
mungkin baru akan terealisasi setelah aku bekerja selama setahun di
sini. Karena aku tahu bahwa biaya kuliah ekstensi itu memang biasanya
lebih mahal dan aku harus menabung terlebih dahulu untuk keperluan
kuliah tersebut. Namanya juga fresh graduate yang baru kerja,
harus bisa mengatur dan mengelola keuangan agar keinginan-keinginan
bisa segera terealisasi. Melanjutkan studi inilah di antaranya. Oleh
karena itu aku harus menganggarkan biaya pendidikan pada
penghasilanku.
Suatu
hari di bulan Januari (lupa tanggal berapa), temanku ada yang
mengirimkan screenshoot web pendaftaran mahasiswa baru kelas
karyawan di salah satu universistas swasta. Lalu aku iseng-iseng buka
web tersebut. Tapi aku belum berminat untuk daftar kuliah kala itu.
Jadi aku hanya mencari tahu saja. Lalu beberapa hari kemudian temanku
ada yang nginep karena mau tes kuliah di Binus. Sebut saja dia Devi (emang Devi sih namanya 😅) Devi ini teman satu jurusan dan satu UKM waktu kuliah. Namanya juga
perempuan ya kalau ketemuan ngobrol. Kami saling berbagi cerita
pengalaman kerja, dan keinginan untuk kuliah lagi. Nah dari situ aku
jadi semakin termotivasi untuk segera melanjutkan studi.
28
Februari 2017
Di
sela-sela pekerjaan jika sedang istirahat atau sudah jam pulang aku
jadi sering cari-cari info tentang perguruan tinggi yang menerima
ekstensi untuk kelas karyawan. Ternyata cukup banyak perguruan tinggi
yang menawarkan program kelas karyawan di Jakarta. Selain mencari
info melalui internet, aku pun meminta saran kepada teman-temanku
yang tinggal di Jakarta. Ya mungkin saja mereka lebih tahu kan. Dari
saran-saran yang terkumpul tersebut, ada beberapa perguruan tinggi
yang paling sering direkomendasikan di antaranya Universitas Mercu
Buana, Universitas Bina Nusantara dan Universitas Trisakti.
Sebelumnya
aku memang sudah pernah mendengar nama PTS tersebut. Trisakti pernah
denger dulu ada beritanya kan di televisi. Entah kasus apa, aku tidak
mengikuti karena waktu itu masih kecil 😞. Binus pernah denger karena
ada teman fb yang gagal masuk ke STAN dan lanjut ke Binus karena
dapat beasiswa. Terus pernah lewat kampusnya juga saat temanku ada
yang menikah di daerah Kemanggisan. Kampusnya bagus dan terlihat
modern. Lalu untuk Mercu yang aku tahu adalah UKM PSM Mercubuana itu
bagus dan berprestasi. Selain itu, aku tidak tahu banyak. Karena
itulah aku mulai mencari informasi mengenai kampus-kampus ini.
10
April 2017
Sebetulnya
ketika aku masih kuliah D3, aku sudah berkeinginan untuk melanjutkan
studi ke PTN lagi. Ya tentu dengan mindset kalau kuliah di PTN
itu lebih murah dari PTS. Tapi ternyata untuk lanjutan/ekstensi
tidaklah demikian. Aku sempat mencari tahu bagaimana biaya dan waktu
tempuh jika lanjut ke UI. Dalam bayanganku sih keren yaa kalau jadi
mahasiswa UI. Secara UI itu salah satu perguruan tinggi terbaik di
Indonesia. Ketika aku cari info biaya kuliah di internet, ternyata
biaya kuliah lanjutan di sana cukup besar untuk ukuran PTN. Untuk
awal masuk kira-kira harus sedia sekitar 25 jutaan. Tadinya aku fikir
bisa aja kalau aku mau nabung dulu (mengingat di sana katanya harus
bayar lunas, ga bisa dicicil). Tapi tentu akan makan waktu lama.
Mungkin aku baru bisa lanjut lagi 2 tahun mendatang. Itu pun kalau
aku rajin menabung dan pandai mengatur keuangan. Lalu suatu hari
temanku ada yang datang langsung ke UI untuk tanya-tanya. Dan
ternyata waktu yang mesti ditempuh adalah 3 tahun. Whaat? Ini
ekstensi
lho 😱. Tapi lamanya kaya mau lulus D3 aja. Jadi kalau ditotal nanti
kuliahnya 6 tahun dong?. Dan kalau aku lanjut 2 tahun mendatang, itu
artinya aku akan lulus ketika usia 27 tahun. Memang
sih, menuntut ilmu tak kenal usia. Apalagi kalau lanjut ke UI worth
it lah yaa. Tapi yaa masih
banyak yang mesti dipertimbangkan.
Aku
pun mencari informasi mengenai PTS yang telah aku sebutkan tadi mulai
dari akreditasi, biaya, waktu tempuh dan jarak tempuh. Aku bahkan
sampai punya draf corat coret hitungan biaya kuliah di 3 universitas
ini. Tiap universitas memiliki keunggulan masing-masing. Tapi
menurutku semuanya sama-sama mahal karena PTS dan ekstensi. Setelah
dilanda kebimbangan dan mempertimbangkan berbagai hal
(akreditasi-biaya-jarak-waktu) akhirnya aku putuskan untuk memilih
lanjut di Universitas Mercu Buana. Kenapa? Ya walau mahal setidaknya
di sini uang kuliahnya bisa dicicil per bulan sampe lulus. Selain
itu jaraknya yang cukup dekat dari mess (kalau pake ojek online
4000-7000 sekali jalan) dan waktunya cukup flexible walau aku
harus mengorbankan weekend untuk ke kampus, hiks 😢 Gapapalah
yaa namanya juga perjuangan.
Sampai
hari ini terhitung sudah 7 minggu aku kuliah di UMB. Suka duka anak
kuliah dirasakan kembali. Bedanya sekarang kerja sambil kuliah. Harus
ada perjuangan ekstra. Harus bisa bagi waktu, anggaran biaya dan
harus bisa mengendalikan mood demi selesainya tugas kuliah
hehe. Aku kira kalau kuliah kelas karyawan di universitas itu bakal
lebih nyantai. Yaa soalnya dulu bayangan universitas lebih nyantai
dari politeknik itu cukup melekat di jiwa wkwk (yang sealmamater sama
aku pasti ngerti hehe). Tapi ternyata ga juga karena di sini aku ga
cuma kuliah. Kalau cuma kuliah aja sih sepertinya di universitas
memang lebih nyantai yaa. Malah tadinya aku mau ikutan UKM juga lho
di sini (so so-an emang). Tapi setelah merasakan bagaimana sensasi
kerja sambil kuliah kayanya bakal cape banget. Jadi yaa sudahlah
nikmati saja yang ada.
Btw
tulisan ini jadinya berhari-hari (keliatan kan aku beri tanggal tiap
lanjut). Padahal tadinya mau nulis satu hari atau dua hari. Biasalah
ekspektasi tak sesuai realita. Tapi semoga kuliah aku ke depannya ga
gitu yaa. Semoga lancar dan bisa lulus tepat waktu (lulus cepet sih
pengennya). Semoga ilmunya bermanfaat dan ga mudah lupa lagi. Semoga
cerita ini menjadi motivasi akan perjuangan yang baru dimulai ini 😁. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Terima kasih sudah membaca.
Happy
Monday 😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar