Translate

Jumat, 27 Desember 2013

Makrab Pamagar



Sabtu, 21 Desember 2013
Pagi ini aku terlambat bangun. Mungkin karena kelelahan setelah seharian kemarin mengikuti sebuah acara sampai larut malam. Dan pagi ini badanku serasa remuk, pegal, sakit dan kepalaku terasa berat, pusing. Intinya, aku merasa tidak enak badan hingga akhirnya setelah shalat dan mandi, aku pun tidur kembali.
Jam menunjukkan pukul 12.05 WIB. Aku terbangun dari tidurku dan ketika aku membuka ponsel, terdapat sms dari temanku yang mengajak untuk bersiap – siap berangkat ke kampus. Ah iya, hari ini ada acara makrab dari salah satu organisasi daerah yang ada di kampusku. Dan aku selaku orang yang berasal dari daerah tersebut diajak ikut serta dalam acara itu. Sementara aku belum mempersiapkan apapun saat itu. Sempat terpikir olehku untuk tidak jadi mengikuti makrab tersebut apalagi aku juga belum membayar biaya makrab itu.
Namun setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengikuti makrab tersebut walau sebenarnya aku masih kurang enak badan. Saat itu aku yakin kalau nantinya badanku akan pulih dengan sendirinya walau mengikuti acara tersebut. Setelah shalat dzuhur dan makan, aku langsung bersiap – siap untuk berangkat. Dan ketika aku melihat apa saja yang mesti dibawa, ah ternyata banyak yang belum ada. Aku belum membuat surat dan kado. Padahal pukul 13.00 aku seharusnya sudah berada di kampus. Akhirnya aku mendadak membeli suatu barang untuk kado sebelum berangkat dan membawa buku catatan kecil serta pulpen untuk membuat surat. Aku yang biasanya berangkat ke kampus dengan jalan kaki, saat itu naik angkot karena menghindari telat. Aku sadar kalau aku sudah telat membayar dan tidak ingin telat lagi untuk yang satu ini.
Sesampainya di kampus, ternyata baru sebagian orang yang kumpul. Biasalah orang Indonesia untuk yang satu ini, “ngaret”. Tapi dengan demikian aku ada waktu untuk membuat surat. Tapi entah mengapa ketika aku coba buat, tapi tidak muncul ide. Apalagi saat itu aku bingung mau membuat surat untuk siapa karena memang aku belum banyak kenal dengan yang lain. Akan tetapi, karena aku terlalu lama berpikir, sampai akhirnya berangkat, di suratku baru tertulis salam pembuka saja. Alhasil, aku membuat surat itu ketika baru sampai di villa.
Acara dimulai ba’da ashar dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al – Qur’an. Setelah itu dilanjutkan dengan pemutaran video tentang Pamagar dan perkenalan organisasi serta kakak tingkat yang ada saat itu. Lalu kemudian istirahat shalat maghrib dan makan. Setelah makan, kemudian shalat isya. Setelah shalat Isya, acara dilanjutkan dengan sharing atau curhat dengan kakak tingkat. Selain itu ada pula alumni yang hadir. Namun karena aku merasa pusing, aku disuruh istirahat saja oleh temanku dan aku tidak mengikuti acara bersama alumni, tetapi tidur.
Jam menunjukkan pukul 22.59 WIB. Itu artinya aku tidur kurang lebih sekitar 30 – 35 menit. Di ruang tengah masih terdengar ramainya acara. Dan saat itu aku agak sulit untuk melanjutkan tidur kembali hingga akhirnya aku kembali ikut bergabung dengan yang lain. Tak lama setelah itu, acara dilanjutkan dengan hiburan dari tiap angkatan. Hiburan diseling video tentang Pamagar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Garuters. Dan hiburan penutup yaitu penampilan drama musical dari perwakilan angkatan 2013.                                                                               


                                                                  
Minggu, 22 Desember 2013
Inilah saat yang paling berkesan dari makrab ini. setelah acara hiburan, seluruh peserta makrab angkatan 2013 diinstruksikan untuk keluar dan berbaris di halaman. Satu per satu nama dipanggil untuk membuat barisan. Hingga akhirnya namaku disebut untuk baris di shaf paling depan. Saat itu aku tidak memiliki firasat apapun. Aku malah mengira kalau nanti akan dikelompokkan dan akan ada post to post. Yaah hal itu sepertinya sudah terpasang di alam bawah sadarku karena organisasi di kampusku terkenal sering begitu. Maka tak heran jika aku mengira demikian.
Ternyata perkiraanku meleset. Setelah dibariskan sedemikian rupa, kakak tingkat menyuruh kami untuk melepas jaket yang kami pakai. Padahal saat itu udara sedang dingin. Ya maklum saja tengah malam. Saat itu aku langsung berpikir bahwa selanjutnya peserta akan dibagi jaket. Ya, jaket orda. Ah bagaimana denganku? Jangankan memesan jaket tersebut, membayar makrab saja sudah sangat telat. Itu pun dengan mengambil uang tabunganku. Tapi saat itu aku diberi jaket dan disuruh langsung digunakan. Aku pun memakainya dengan ragu – ragu, karena di sisi lain aku merasa kedinginan namun di sisi lain aku merasa tidak berhak mengenakan jaket tersebut. Tapi ah sudahlah aku pakai saja, mungkin kakak tingkat itu tidak tahu kalau aku sebenarnya tidak membeli jaket tersebut. Atau mungkin saja karena saat itu semua memakai jaket yang sama, aku pun disuruh demikian sebagai bentuk formalitas agar terlihat kompak.           
Namun lagi – lagi dugaanku salah. Setelah kami disuruh membuka mata dan melihat ke samping kiri dan kanan, semua telah memakai jaket yang sama. Jaket warna abu dan biru. Tapi ada sedikit yang berbeda dari jaket yang aku kenakan dengan jaket teman – temanku yang lain. Ya mungkin saja karena ukuran yang berbeda. Yaa bisa jadi. Setelah itu, kami disuruh membuat kelompok yang masing – masing terdiri dari lima orang. Dan ketika aku diajak oleh temanku, aku dan satu temanku didatangi oleh ketua, dan diberi wejangan yang hal itu membuat aku merasa tidak enak, malu sekaligus sangat terharu.



“. . . .” (sensor)
Aku langsung speechless saat itu. Bingung mau mengatakan apa. Aku benar – benar tak menyangka akan seperti ini. Aku malu. Aku terharu. Aku ingin menangiis, tapi tak bisa. Aku yang awalnya menganggap mereka tak peduli ternyata sebenarnya sangat peduli dan mereka sadar akan keberadaanku. “Terima kasih”, hanya itu yang dapat aku ucapkan saat itu. Kata yang sederhana namun sarat akan makna. Dan pada hari ini 22 Desember 2013 aku resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Paguyuban Mahasiswa Garut Politeknik Negeri Bandung.


UPACARA ADAT DIES NATALIS POLBAN



Waw! Akhirnya semua telah usai. Pertunjukkan ini benar – benar telah berakhir. Suatu pencapaian yang didapat dengan hanya beberapa kali latihan. Walau belum sempurna namun sepertinya sudah cukup menghibur. Ya, kurasa begitu jika dilihat dari antusiasme para penonton saat itu.
Jumat, 20 Desember 2013
Hari ini merupakan salah satu hari yang ditunggu – tunggu oleh ormawa – ormawa yang ada di kampusku. Bagaimana tidak, hari ini terdapat acara “Dies Natalis” yang disertai dengan sertijab akbar dari hampir semua organisasi mahasiswa yang ada di sini. Mulai dari serah terima jabatan ketua MPM, BEMa, UKM – UKM, serta Himpunan – Himpunan yang ada. Namun tidak hanya itu, acara ini juga diisi dengan penampilan beberapa UKM seni di antaranya UKM Kabayan, UKM Musik, dan UKM UKBM. Ada pula penampilan dari salah satu himpunan.
Yang membedakan acara ini dengan tahun – tahun sebelumnya yaitu tahun ini di awal acara pembukaan diisi dengan upacara adat yang dipersembahkan oleh UKM Kabayan. Seperti upacara adat biasanya, terdapat lengser “Abah dan Ambu”, umbul – umbul, payung, dan tari. Namun yang berbeda adalah yang menjadi sasaran utama yang akan diarak. Biasanya adalah sepasang pengantin, tapi pada acara ini yang diarak adalah para ketua organisasi mahasiswa yang akan turun jabatannya. Sehingga hanya beberapa orang saja yang dipayungi.
Setelah beberapa kali gladi bersih, kami pun bersiap – siap untuk tampil yang “katanya” akan dimulai ba’da ashar. Sehingga ketika waktu ashar tiba, kami tidak diizinkan untuk bersantai – santai dan berpencar, namun tetap stand by di backstage pendopo. Setelah kami semua siap, pengatur acara mengatakan bahwa pembukaan dimulai pukul 16.45 WIB. Sambil menunggu, kami melakukan pemanasan dengan bermain gamelan. Ketika jam menunjukkan pukul 16.45 WIB, belum ada ormawa yang masuk ke pendopo. Yaa beginilah bangsa kita yang sudah terkenal dengan budaya ngaretnya. Sampai pada pukul 16.56 barulah ada satu himpunan yang masuk pendopo. Menunggu kembali. Lalu masuklah himpunan selanjutnya yang kemudian mengatur barisan karena tempat yang terbatas dan begitu seterusnya hingga waktu menunjukkan pukul 18.05 WIB yang artinya waktu maghrib telah tiba. Aku kesal dengan semua ini, ini lebih ngaret dari yang aku kira. Dan akhirnya kami diberi waktu untuk istirahat shalat maghrib.
Seperti yang sudah aku kira sebelumnya, pasti akan ngaret pula setelah maghrib. Dan ternyata memang benar, barisan masih harus diatur – atur kembali. Hingga akhirnya ketika hampir isya, acara pun dimulai. Itu artinya upacara adat sebagai pembukaan dimulai juga. Yap kami pun beraksi. Ketukan kendang mengawali musik sebagai komando. Alunan musik gamelan yang kami mainkan mengiringi jalannya upacara.
Upacara adat dimulai dengan pembacaan sajak terlebih dahulu oleh temanku yang tidak lain dan tidak bukan adalan Tomi. Dia membaca sajak dengan penuh penghayatan. Dan penonton yang merupakan kesatuan Kema Polban sepertinya memperhatikan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya (?). Setelah itu, lengser “Ambu dan Abah” pun beraksi. Semua penonton sepertinya sangat terhibur dengan penampilan mereka, padahal sebelumnya ketika latihan tidaklah sekocak itu. Mungkin karena efek dubber dari Tomi dan Yeni, sehingga Anton dan Roro menjadi lebih enjoy dan dapat membawa suasana atau mungkin juga karena efek make up dan kostum yang membuat mereka menjadi lebih percaya diri. Who know?
Setelah itu, bagian umbul – umbul yang tampil. Terdiri dari empat orang mahasiswa putra yang hanya aku kenal wajahnya saja (maaf gk disebutin personelnya). Kemudian, dilanjutkan dengan payung yang dipegang oleh Andris. Saat itu sempat ada kesalahan dalam musik yang sebagian memainkan musik untuk yang tari, namun dengan cepat hal itu dapat dikendalikan dan upacara berjalan normal kembali. Barulah setelah itu tari badaya ditampilkan. Tari ini diperankan oleh delapan orang mahasiswa putri yang hanya aku kenal sebagian namanya (maaf gk disebutin personelnya “lagi”).
Lengser sudah, umbul – umbul sudah, payung dan tari sudah. Inilah saatnya mengiringi pengantin yang dalam hal ini adalah para ketua ormawa. Para ketua ormawa berbaris dan diiringi para pemain upacara adat. Dan setelah itu selesailah upacara adat dari UKM Kabayan. Akhirnya semua pihak yang terlibat dalam upacara adat dapat bernafas lega karena telah menampilkan pertunjukkan yang cukup menghibur.
Kemudian, acara dilanjutkan dengan serah terima jabatan UKM – UKM diselingi dengan penampilan dari pengisi acara lainnya. Setelah semua UKM serah terima jabatan dengan ketua yang baru, barulah kemudian serah terima jabatan Himpunan dan Ikatan. (maaf detailnya tidak diceritakan di sini J)
Mungkin sekian yang dapat saya ceritakan. Mohon maaf apabila ada salah kata yang menimbulkan adanya pihak yang menjadi tersinggung, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Semoga catatan ini menghibur dan bermanfaat khususnya untuk saya, umumnya untuk semua yang membaca. Atas perhatian saya ucapkan terima kasih.
Special thanks to :   UKM Kabayan, Pak Ujang, Aa – Aa bale desa yang namanya tidak bisa saya sebut satu per satu, Ketua UKM Kabayan yang baru dan baru lengser (A Regi dan A Ogie), Aminah (saron), Tsani (saron), Teh Luthfi (bonang), Ahmad (kendang), Tomi (kendang, dubber) A Chandra (suling, dkk), A  Ari (saron), Titim (goong), Lethi (jengglong), Delia (goong), Yeni (dubber), and all personel UKM Kabayan yang gk bisa aku sebutin satu per satu.