Translate

Jumat, 27 Desember 2013

Makrab Pamagar



Sabtu, 21 Desember 2013
Pagi ini aku terlambat bangun. Mungkin karena kelelahan setelah seharian kemarin mengikuti sebuah acara sampai larut malam. Dan pagi ini badanku serasa remuk, pegal, sakit dan kepalaku terasa berat, pusing. Intinya, aku merasa tidak enak badan hingga akhirnya setelah shalat dan mandi, aku pun tidur kembali.
Jam menunjukkan pukul 12.05 WIB. Aku terbangun dari tidurku dan ketika aku membuka ponsel, terdapat sms dari temanku yang mengajak untuk bersiap – siap berangkat ke kampus. Ah iya, hari ini ada acara makrab dari salah satu organisasi daerah yang ada di kampusku. Dan aku selaku orang yang berasal dari daerah tersebut diajak ikut serta dalam acara itu. Sementara aku belum mempersiapkan apapun saat itu. Sempat terpikir olehku untuk tidak jadi mengikuti makrab tersebut apalagi aku juga belum membayar biaya makrab itu.
Namun setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengikuti makrab tersebut walau sebenarnya aku masih kurang enak badan. Saat itu aku yakin kalau nantinya badanku akan pulih dengan sendirinya walau mengikuti acara tersebut. Setelah shalat dzuhur dan makan, aku langsung bersiap – siap untuk berangkat. Dan ketika aku melihat apa saja yang mesti dibawa, ah ternyata banyak yang belum ada. Aku belum membuat surat dan kado. Padahal pukul 13.00 aku seharusnya sudah berada di kampus. Akhirnya aku mendadak membeli suatu barang untuk kado sebelum berangkat dan membawa buku catatan kecil serta pulpen untuk membuat surat. Aku yang biasanya berangkat ke kampus dengan jalan kaki, saat itu naik angkot karena menghindari telat. Aku sadar kalau aku sudah telat membayar dan tidak ingin telat lagi untuk yang satu ini.
Sesampainya di kampus, ternyata baru sebagian orang yang kumpul. Biasalah orang Indonesia untuk yang satu ini, “ngaret”. Tapi dengan demikian aku ada waktu untuk membuat surat. Tapi entah mengapa ketika aku coba buat, tapi tidak muncul ide. Apalagi saat itu aku bingung mau membuat surat untuk siapa karena memang aku belum banyak kenal dengan yang lain. Akan tetapi, karena aku terlalu lama berpikir, sampai akhirnya berangkat, di suratku baru tertulis salam pembuka saja. Alhasil, aku membuat surat itu ketika baru sampai di villa.
Acara dimulai ba’da ashar dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al – Qur’an. Setelah itu dilanjutkan dengan pemutaran video tentang Pamagar dan perkenalan organisasi serta kakak tingkat yang ada saat itu. Lalu kemudian istirahat shalat maghrib dan makan. Setelah makan, kemudian shalat isya. Setelah shalat Isya, acara dilanjutkan dengan sharing atau curhat dengan kakak tingkat. Selain itu ada pula alumni yang hadir. Namun karena aku merasa pusing, aku disuruh istirahat saja oleh temanku dan aku tidak mengikuti acara bersama alumni, tetapi tidur.
Jam menunjukkan pukul 22.59 WIB. Itu artinya aku tidur kurang lebih sekitar 30 – 35 menit. Di ruang tengah masih terdengar ramainya acara. Dan saat itu aku agak sulit untuk melanjutkan tidur kembali hingga akhirnya aku kembali ikut bergabung dengan yang lain. Tak lama setelah itu, acara dilanjutkan dengan hiburan dari tiap angkatan. Hiburan diseling video tentang Pamagar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Garuters. Dan hiburan penutup yaitu penampilan drama musical dari perwakilan angkatan 2013.                                                                               


                                                                  
Minggu, 22 Desember 2013
Inilah saat yang paling berkesan dari makrab ini. setelah acara hiburan, seluruh peserta makrab angkatan 2013 diinstruksikan untuk keluar dan berbaris di halaman. Satu per satu nama dipanggil untuk membuat barisan. Hingga akhirnya namaku disebut untuk baris di shaf paling depan. Saat itu aku tidak memiliki firasat apapun. Aku malah mengira kalau nanti akan dikelompokkan dan akan ada post to post. Yaah hal itu sepertinya sudah terpasang di alam bawah sadarku karena organisasi di kampusku terkenal sering begitu. Maka tak heran jika aku mengira demikian.
Ternyata perkiraanku meleset. Setelah dibariskan sedemikian rupa, kakak tingkat menyuruh kami untuk melepas jaket yang kami pakai. Padahal saat itu udara sedang dingin. Ya maklum saja tengah malam. Saat itu aku langsung berpikir bahwa selanjutnya peserta akan dibagi jaket. Ya, jaket orda. Ah bagaimana denganku? Jangankan memesan jaket tersebut, membayar makrab saja sudah sangat telat. Itu pun dengan mengambil uang tabunganku. Tapi saat itu aku diberi jaket dan disuruh langsung digunakan. Aku pun memakainya dengan ragu – ragu, karena di sisi lain aku merasa kedinginan namun di sisi lain aku merasa tidak berhak mengenakan jaket tersebut. Tapi ah sudahlah aku pakai saja, mungkin kakak tingkat itu tidak tahu kalau aku sebenarnya tidak membeli jaket tersebut. Atau mungkin saja karena saat itu semua memakai jaket yang sama, aku pun disuruh demikian sebagai bentuk formalitas agar terlihat kompak.           
Namun lagi – lagi dugaanku salah. Setelah kami disuruh membuka mata dan melihat ke samping kiri dan kanan, semua telah memakai jaket yang sama. Jaket warna abu dan biru. Tapi ada sedikit yang berbeda dari jaket yang aku kenakan dengan jaket teman – temanku yang lain. Ya mungkin saja karena ukuran yang berbeda. Yaa bisa jadi. Setelah itu, kami disuruh membuat kelompok yang masing – masing terdiri dari lima orang. Dan ketika aku diajak oleh temanku, aku dan satu temanku didatangi oleh ketua, dan diberi wejangan yang hal itu membuat aku merasa tidak enak, malu sekaligus sangat terharu.



“. . . .” (sensor)
Aku langsung speechless saat itu. Bingung mau mengatakan apa. Aku benar – benar tak menyangka akan seperti ini. Aku malu. Aku terharu. Aku ingin menangiis, tapi tak bisa. Aku yang awalnya menganggap mereka tak peduli ternyata sebenarnya sangat peduli dan mereka sadar akan keberadaanku. “Terima kasih”, hanya itu yang dapat aku ucapkan saat itu. Kata yang sederhana namun sarat akan makna. Dan pada hari ini 22 Desember 2013 aku resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Paguyuban Mahasiswa Garut Politeknik Negeri Bandung.


UPACARA ADAT DIES NATALIS POLBAN



Waw! Akhirnya semua telah usai. Pertunjukkan ini benar – benar telah berakhir. Suatu pencapaian yang didapat dengan hanya beberapa kali latihan. Walau belum sempurna namun sepertinya sudah cukup menghibur. Ya, kurasa begitu jika dilihat dari antusiasme para penonton saat itu.
Jumat, 20 Desember 2013
Hari ini merupakan salah satu hari yang ditunggu – tunggu oleh ormawa – ormawa yang ada di kampusku. Bagaimana tidak, hari ini terdapat acara “Dies Natalis” yang disertai dengan sertijab akbar dari hampir semua organisasi mahasiswa yang ada di sini. Mulai dari serah terima jabatan ketua MPM, BEMa, UKM – UKM, serta Himpunan – Himpunan yang ada. Namun tidak hanya itu, acara ini juga diisi dengan penampilan beberapa UKM seni di antaranya UKM Kabayan, UKM Musik, dan UKM UKBM. Ada pula penampilan dari salah satu himpunan.
Yang membedakan acara ini dengan tahun – tahun sebelumnya yaitu tahun ini di awal acara pembukaan diisi dengan upacara adat yang dipersembahkan oleh UKM Kabayan. Seperti upacara adat biasanya, terdapat lengser “Abah dan Ambu”, umbul – umbul, payung, dan tari. Namun yang berbeda adalah yang menjadi sasaran utama yang akan diarak. Biasanya adalah sepasang pengantin, tapi pada acara ini yang diarak adalah para ketua organisasi mahasiswa yang akan turun jabatannya. Sehingga hanya beberapa orang saja yang dipayungi.
Setelah beberapa kali gladi bersih, kami pun bersiap – siap untuk tampil yang “katanya” akan dimulai ba’da ashar. Sehingga ketika waktu ashar tiba, kami tidak diizinkan untuk bersantai – santai dan berpencar, namun tetap stand by di backstage pendopo. Setelah kami semua siap, pengatur acara mengatakan bahwa pembukaan dimulai pukul 16.45 WIB. Sambil menunggu, kami melakukan pemanasan dengan bermain gamelan. Ketika jam menunjukkan pukul 16.45 WIB, belum ada ormawa yang masuk ke pendopo. Yaa beginilah bangsa kita yang sudah terkenal dengan budaya ngaretnya. Sampai pada pukul 16.56 barulah ada satu himpunan yang masuk pendopo. Menunggu kembali. Lalu masuklah himpunan selanjutnya yang kemudian mengatur barisan karena tempat yang terbatas dan begitu seterusnya hingga waktu menunjukkan pukul 18.05 WIB yang artinya waktu maghrib telah tiba. Aku kesal dengan semua ini, ini lebih ngaret dari yang aku kira. Dan akhirnya kami diberi waktu untuk istirahat shalat maghrib.
Seperti yang sudah aku kira sebelumnya, pasti akan ngaret pula setelah maghrib. Dan ternyata memang benar, barisan masih harus diatur – atur kembali. Hingga akhirnya ketika hampir isya, acara pun dimulai. Itu artinya upacara adat sebagai pembukaan dimulai juga. Yap kami pun beraksi. Ketukan kendang mengawali musik sebagai komando. Alunan musik gamelan yang kami mainkan mengiringi jalannya upacara.
Upacara adat dimulai dengan pembacaan sajak terlebih dahulu oleh temanku yang tidak lain dan tidak bukan adalan Tomi. Dia membaca sajak dengan penuh penghayatan. Dan penonton yang merupakan kesatuan Kema Polban sepertinya memperhatikan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya (?). Setelah itu, lengser “Ambu dan Abah” pun beraksi. Semua penonton sepertinya sangat terhibur dengan penampilan mereka, padahal sebelumnya ketika latihan tidaklah sekocak itu. Mungkin karena efek dubber dari Tomi dan Yeni, sehingga Anton dan Roro menjadi lebih enjoy dan dapat membawa suasana atau mungkin juga karena efek make up dan kostum yang membuat mereka menjadi lebih percaya diri. Who know?
Setelah itu, bagian umbul – umbul yang tampil. Terdiri dari empat orang mahasiswa putra yang hanya aku kenal wajahnya saja (maaf gk disebutin personelnya). Kemudian, dilanjutkan dengan payung yang dipegang oleh Andris. Saat itu sempat ada kesalahan dalam musik yang sebagian memainkan musik untuk yang tari, namun dengan cepat hal itu dapat dikendalikan dan upacara berjalan normal kembali. Barulah setelah itu tari badaya ditampilkan. Tari ini diperankan oleh delapan orang mahasiswa putri yang hanya aku kenal sebagian namanya (maaf gk disebutin personelnya “lagi”).
Lengser sudah, umbul – umbul sudah, payung dan tari sudah. Inilah saatnya mengiringi pengantin yang dalam hal ini adalah para ketua ormawa. Para ketua ormawa berbaris dan diiringi para pemain upacara adat. Dan setelah itu selesailah upacara adat dari UKM Kabayan. Akhirnya semua pihak yang terlibat dalam upacara adat dapat bernafas lega karena telah menampilkan pertunjukkan yang cukup menghibur.
Kemudian, acara dilanjutkan dengan serah terima jabatan UKM – UKM diselingi dengan penampilan dari pengisi acara lainnya. Setelah semua UKM serah terima jabatan dengan ketua yang baru, barulah kemudian serah terima jabatan Himpunan dan Ikatan. (maaf detailnya tidak diceritakan di sini J)
Mungkin sekian yang dapat saya ceritakan. Mohon maaf apabila ada salah kata yang menimbulkan adanya pihak yang menjadi tersinggung, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Semoga catatan ini menghibur dan bermanfaat khususnya untuk saya, umumnya untuk semua yang membaca. Atas perhatian saya ucapkan terima kasih.
Special thanks to :   UKM Kabayan, Pak Ujang, Aa – Aa bale desa yang namanya tidak bisa saya sebut satu per satu, Ketua UKM Kabayan yang baru dan baru lengser (A Regi dan A Ogie), Aminah (saron), Tsani (saron), Teh Luthfi (bonang), Ahmad (kendang), Tomi (kendang, dubber) A Chandra (suling, dkk), A  Ari (saron), Titim (goong), Lethi (jengglong), Delia (goong), Yeni (dubber), and all personel UKM Kabayan yang gk bisa aku sebutin satu per satu.

Sabtu, 28 September 2013

Pelatihan Bela Negara dan Kedisiplinan Mahasiswa Polban 2013




Sesuai dengan judul di atas, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku ketika mengikuti PBNK tanggal 1-6 September 2013. Walau sudah berlalu dua minggu yang lalu, tak apa donk jika aku menceritakannya kembali sekarang. Ok, jadi pelatihan ini biasa disebut wamil atau wajib militer juga oleh para mahasiswa. Ya walaupun tidak terlalu berat seperti wamil yang sesungguhnya (mungkin). Jadi, nanti ketika aku bercerita istilah ini akan dipakai juga supaya tidak rancu kalau aku sebut PBNK. Berhubung aku masuk grup 3, jadi aku sudah cukup banyak mendengar cerita dari temanku yang grup 1 dan 2. Jadi sudah ada gambaran kegiatannya seperti apa. Baiklah untuk yang penasaran, check this out!

Minggu, 1 September 2013
Pukul 10.00 WIB aku sudah siap – siap untuk berangkat ke kampus. Kebetulan ada 2 orang teman kostku yang segrup sehingga kami pergi bersama – sama ke kampus. Sepanjang perjalanan, kami bertiga ngobrol, sehingga bawaan yang cukup berat itu tetap terasa *lho?. Apalagi ketika kami akan masuk kampus lewat gerbang belakang (entah istilahnya gerbang atas atau gerbang belakang, yang pasti gerbang ini adalah gerbang yang paling dekat dari kosan), tidak biasanya jalan kecil yang cukup untuk dilalui kami “ditutup”, dan itu rasanya menyedihkan sekali. Alhasil, kita harus masuk lewat gerbang utama. Setengah perjalanan lagi menuju ke sana namun kami harus tetap semangat.
Sesampainya di kampus, ada pengumuman kalau maba disuruh masuk ke pendopo. Tapi berhubung kami belum menyiapkan bekal dan ketika itu belum pukul 11.00 WIB, maka kami bertiga belok dulu ke pujasera. Di sana ternyata ada juga beberapa maba yang sedang beli makanan, jadi kami santai dulu saja. Setelah makanan sudah siap, kami pun berjalan menuju pendopo dan di tengah jalan kami berjumpa dengan teteh – teteh, “kalian yang mau wamil grup 3 kan?”. “iya teh.” “itu udah pada kumpul di pendopo”. “wah masa, teh?” (pura – pura kaget padahal udah tau). “iya”. “oh yaudah atuh teh, duluan.” (sambil masang mimik n gestur orang yang lagi buru – buru). :-D
Di pendopo ternyata anak – anak telah baris menurut kelompok dan sedang diabsen. Langsung saja ketika melihat ada yang pegang kertas bertuliskan “37”, aku langsung masuk ke barisan. Setelah itu kami dipersilakan duduk untuk menunggu giliran membawa baju dan training untuk wamil di direktorat. Grup 3 itu ternyata dari kelompok 29-42. Dan karena aku kelompok 37, jadinya cukup lama menunggu. Akhirnya bekal yang tadi dibeli dari pujasera aku makan saja. Barulah setelah shalat dzuhur, tiba giliran kelompokku untuk membawa baju ke direktorat. Akhirnyaa..
Karena kendaraan yang cukup limit, kami semua dibagi menjadi 2 kloter. Kloter pertama kelompok 29-35 dan kloter kedua kelompok 36-40. Nah, yang 41 n 42 gimana? Jadi ternyata ketika aku ke pujasera, kelompok 41 n 42 itu dipecah lagi dan dimasukkan ke kelompok lain, sehingga semuanya terbagi menjadi 12 kelompok, bukan 14 lagi. Lagi lagi menunggu. Ya, itulah hal yang paling membosankan. Mana ketika itu rasa ngantuk melanda, mau tidur tanggung, tapi setelah dicoba tidur malah susah. Dan akhirnya pada sekitar pukul 14.00 WIB, kendaraan pengangkut kami datang.  Setelah dibariskan dan masuk ke kendaraan, akhirnya aku kebagian di bus bertuliskan “rombongan polban 6” (kalau tidak salah, kurang lebih seperti itu :-D). Aku dapat tempat duduk paling belakang di pojok kanan. Tempat yang cukup pw untuk tidur, dan setelah bus melaju, beberapa saat kemudian aku tak sadarkan diri. Zzzz.
(jeglig, jedug, gubrag!) Aku terbangun dari tidurku yang biasa saja itu dan melihat pemandangan bahwa bus yang aku tumpangi telah memasuki kompleks TNI. Dan itu artinya sebentar lagi kami akan tiba di tempat tujuan yaitu Pusdikhub Kodiklat TNI AD Cimahi. Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di sana dan setelah itu kami langsung dibariskan untuk masuk ke barak. Aku kebagian di barak yang dekat dapur dan dapat kasur di ujung tapi gk ujung – ujung banget. Intinya lumayan jauh menuju pintu keluar.
Sore itu kami langsung ditensi dan difoto untuk sertifikat. Kami diajarkan 2 buah lagu, Mars Pusdikhub dan yang satunya lupa entah apa judulnya yang pasti lagu itu sudah tidak asing karena pernah dipelajari ketika waktu SMP, hanya ada beberapa lirik yang ditambah. Kurang lebih lagunya seperti ini :
Tinggalkan ayah tinggalkan ibu
izinkan kami pergi berlatih
di bawah kibaran sang merah putih
majulah ayo maju menyerbu, serbu
Tidak kembali pulang
Sebelum kita yang menang
Walau mayat terdampar di medan perang
Demi bangsa kamilah berjuang
Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkan dia dia dia
Kikis habislah mereka
Demi Negara Indonesia
Wahai kawanku mahasiswa polban
Di mana engkau berada? Di sini
Teruskan perjuangan para pahlawan
Demi bangsa kamilah berjuang, berjuang
Itulah lagu yang diajarkan oleh komandan. Dan katanya setiap ada perpindahan harus baris sambil nyanyi. Agak ribet juga sih awalnya, tapi ya memang itu aturannya.
Setelah pembersihan (istilah lain dari kegiatan di jamban : mandi, dll) dan membereskan pakaian di lemari, lalu dilanjutkan makan sore menuju malam (makan maghrib tepatnya :D). Sebelum makan, kita harus disiapkan terlebih dahulu (duduk siaap grak!), lalu berdo’a (mengawali makan malam, berdo’a mulai!) dan setelah diistirahatkan (istirahat di tempaat grak! Selamat makan!) barulah kita boleh makan. Makan di sini bukan sembarang makan. Tubuh kita harus tegak dan istilahnya sendok yang nyamperin mulut bukan mulut yang nyamperin sendok *nah lho?.  Makanan di Pusdikhub enak, tapi kurang bisa dinikmati berhubung waktunya yang limit banget. Jadi klo mau makan banyak, harus cepat.
Malamnya kami dikumpulkan dalam satu kelas yang bernama Ahmad Yani, di sana kami diberi pengarahan untuk kegiatan yang akan kami lalui selama 5 hari ke depan.

Senin, 2 September 2013
Setiap acara pasti ada pembukaan. Begitu pula dengan pelatihan ini, yang dibuka dengan upacara pembukaan PBNK grup 3 di lapangan (anak kecil juga tau kaleee :D). Untuk kronologi lebih jelasnya aku sudah agak lupa, pokoknya sebelum dan setelah upacara itu ada materi di kelas, hehe :D

Selasa, 3 September 2013
Hari ini kegiatan di lapangan. Setelah shalat shubuh kami tidak berganti pakaian, tetapi tetap mengenakan kaos dan training seragam dari polban. Untuk kelas B, pertama – tama kami diberi materi mengenai PBB (Peraturan Baris – Berbaris). Setelah itu ada materi di ruangan juga, dan itu rasanyaaa ngantuk banget. Padahal waktu paginya aku nyeduh kopi dulu. Tapi ternyata tidak mempan. Aku tetap aja ngantuk waktu di kelas. Pokoknya hebat banget orang – orang yang tidak pernah ngantuk saat ada materi di ruangan.
Siang setelah isoma, kami diberi materi BDM. Apa itu BDM? BDM bukan Bahan Dakar Minyak lho yaa, *ops. BDM itu singkatan dari Bela Diri Militer. Klo dari judulnya sih kayaknya emang keren. Tapi aslinya keren juga klo dipraktekin sama yang bisa :-D. Kami diajarkan gerakan dasar kuda – kuda, pukulan dan tendangan. Gerakannya tidak jauh beda dengan bela diri pada umumnya, Cuma yaa beda – beda dikit lah. Nah, yang paling beda yaitu dari suara. Kan klo bela diri yang lain itu tiap ada pukulan, tendangan atau ganti kuda – kuda biasanya teriak “aaargh!”, “eaagh!”, “hiyaaa!”, “haaiiigh!”, yaa kurang lebih seperti itu lah, tapi klo BDM bilangnya “JAS!”. Pantas saja teman – temanku yang sudah wamil duluan suka cerita – cerita soal “jas”, eh ternyata itu pas BDM :-D. Lumayan lah dapat ilmu baru setelah sekian lama gk latihan bela diri *curhat.

Rabu, 4 September 2013
HTF. How to fight? Itulah jadwal pelatihan kami hari Rabu. Seperti hari Selasa, kami mengenakan  training dan kaos loreng. Walau sudah agak lumayan kena keringat waktu Selasa, tapi yaa gpp lah, kan semuanya gitu :-D. Ok, jadi HTF ini kurang lebih kayak outbond gitu kawan. Jadi di sana ada beberapa wahana (kayak di Dufan aja wahana :D), di antaranya ada snapling, rayapan tali 2, jembatan tali 3, jaring, tali temali. Dan setelah dikocok, akhirnya pletonku kebagian rayapan tali 2 dulu. Untuk yang belum tahu rayapan tali 2 itu seperti apa, aku deskripsikan deh. Jadi ada dua tali tambang besar (entah aslinya cuma satu atau memang dua tapi dijadikan dua) yang dihubungkan di dua pohon besar, jarak dari dasar ke tali ± 2,5 – 3 meter, jarak dari pohon ke pohon ± 8 – 10 meter. Nah untuk melewatinya dengan cara merayap di dua tali tersebut.
salah satu teman yang sedang melaksanakan rayapan tali dua :)
Jika melihat komandan yang memperagakan sepertinya mudah, tapi aslinya ya ampuun “waw” banget deh. Awalnya lumayan bersemangat tapi kecepatannya malah terus berkurang. Rasanya panas kena gesekan tali tambang yang besar – besar itu, jarak yang kelihatannya dekat serasa menjadi jauh ketika sudah di atas. Akhirnya maju berhenti maju berhenti. Namun perlahan tapi pasti akhirnya aku sampai juga di ujung. Dan itu rasanya legaaa banget.
Awalnya yang mau mencoba tantangan itu hanya sebagian (sebagian kecil maksudnya), tapi akhirnya semua disuruh mencoba termasuk yang fobia ketinggian. Kami saling menyemangati satu sama lain supaya bisa sampai di finish. Jika dibandingkan dengan tantangan yang lain, rayapan tali 2 itu sepertinya yang paling sulit. Makanya, pleton kami cukup menghabiskan waktu dan alhasil hanya mencoba satu permainan saja. Padahal kami ingin mencoba snapling, tapi berhubung waktunya sudah habis kami harus puas mencoba rayapan tali 2 saja :/.
Sore harinya ketika pembersihan, aku mendapati tubuhku yang jadi ungu – ungu. Waw, biasanya kan memar kayak gitu munculnya keesokan harinya tapi ini langsung. Parah deh, cuma naik rayapan tali 2 aja *cuma? efeknya malah gitu. Klo yang lain sih paling pegel – pegel aja. Tapi yaa bagaimanapun itu tetap harus dinikmati. Setidaknya jadi dapet pengalaman baru dan bisa buat bahan cerita seperti sekarang ini, hehe.

Kamis, 5 September 2013
            H-1 penutupan. Pertama tiba di Pusdikhub rasanya lama banget pengen cepat selesai, tapi setelah dijalani ternyata tak terasa sudah mau berakhir lagi. Hari ini bertepatan dengan dibukanya pengumuman USM STAN. Deg deg gan? Rasanya aku biasa saja, karena pada saat itu aku sedang wamil sehingga tidak bisa melihat langsung pengumumannya karena gk ada media (lewat HP gk bisa, maklum HPnya kurang canggih, haha :D). Setelah mandi pagi, aku buka fb dan katanya pengumuman itu sudah ada, aku menanyakan hasilnya ke teman yg ada di grup, trus ternyata gk ada nama aku. Lalu setelah shalat shubuh aku ngsms teman, minta tolong untuk melihat pengumuman tersebut dan ternyata memang tidak ada nama aku di situ. Kecewa pasti ada, itu wajar menurutku. Tapi semua telah terjadi, dan gk bisa diulang lagi. Apalagi pada saat itu banyak sms masuk dari temen2 yang nanya hasil pengumuman itu. Rasanya pingin nangis, tapi gk bisa. Klo kata istilah orang – orang sih kayaknya waktu itu aku memang tersenyum tapi dalam hati menangis, haha :D. Tapi belum sempat aku membalas semua, para mahasiswa diperintahkan untuk persiapan sarapan. Entah mungkin karena kecewa atau bagaimana, setelah duduk di ruang makan, aku merasakan lapar yang amat dahsyat dan setelah dipersilakan makan, teman makanku ada yang tidak mau makan semua jatah lauk pauknya, jadi diberikan ke aku. Alhamdulillah :)

            Setelah  masuk kelas, beberapa saat kemudian rasa kantuk melanda para siswa termasuk aku. Ngantuk, gk enak hati, malas, pokoknya saat itu aku berada dalam keadaan yang gk enak banget. Komandan yang memberi materi tidak terlalu diperhatikan olehku. Hingga akhirnya di suatu sesi beliau menceritakan pengalaman keponakannya yang mengalami banyak kegagalan ketika masuk kuliah, walau akhirnya dia berhasil. Dan akhirnya aku sadar kalau aku masih beruntung jika dibandingkan dengannya. Mulailah ada pencerahan :)
            Malam terakhir di pusdikhub peserta pelatihan diberi renungan dengan lampu yang dimatikan dan backsoundnya pake lagu Syukur. Lumayan merinding juga dengernya, dan akhirnya air mata itu tumpah *dramatisir. Menangis, ya itu dia yang terjadi pada saat itu. Alhamdulillah, akhirnya bisa nangis juga. Lega rasanya, walau sedih aku tak tahu porsinya sedih karena apa. Entah itu sedih karena ingat mati, ingat ortu, akan meninggalkan pusdikhub, atau karena pengumuman tadi pagi (?). Entahlah, yang pasti aku merasa lebih baik.
            Jika malam – malam sebelumnya setelah selesai materi aku langsung ke barak, berbeda dengan malam terakhir ini. Aku menyempatkan diri untuk mengunjungi kantin. Yaa walaupun aku gk jajan, tapi ikut aja nimbrung sama anak – anak yang sepleton (C1). Walau baru kenal, tapi mereka lumayan seru dan pada malam itu aku merasa terhibur. Yang asalnya bad mood jadi good mood :). Dan akhirnya bersyukur dengan apa yang telah diberi oleh Allah untukku. Aku harus yakin klo ini adalah yang terbaik untukku. Harus yakin klo rencana Allah itu indah :). Berusaha untuk tidak mengeluh dan bersyukur. Keep qana’ah :)…
Pleton C1


Jumat, 6 September 2013
Hari terakhir di pusdikhub. Materinya tentang 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara, pokoknya Indonesia bangetlah. Nambah rasa nasionalisme. Seteleh itu dilanjutkan dengan persiapan upacara penutupan dan setelah itu penutupan deh. Entah apa yang aku rasakan hari itu rasanya nano – nano, senang, sedih, lega, dan lain – lain semua bercampur jadi satu. Apalagi ketika pulang melewati Dinas Jasmani AD yang waktu itu dipakai untuk tes kesehatan dan kebugaran, jadi sedih. Tapi ya sudahlah. Pokoknya pengalaman ini berkesan (klo gk, gk akan aku buat ceritanya :-D)
Itulah pengalamanku tentang Pelatihan Bela Negara dan Kedisiplinan di Pusdikhub. Mohon maaf jika ada bahasa yang kurang enak dan menyinggung pihak – pihak tertentu, dan bahasanya yang campur aduk :-), serta dengan ceritanya yang kurang detail, berhubung sudah agak lupa.
Akhirul kalam, saya ucapkan terima kasih. :-)

Sabtu, 10 Agustus 2013

BAKSO apa BASO?



BAKSO apa BASO?
Tahukah kalian apa itu bakso? Saya yakin yang baca postingan ini pasti tahu. Bakso atau yang lebih sering kita dengar baso ini merupakan salah satu makanan favorit di Nusantara *sotoy (tapi sepertinya memang benar). Dalam bahasa Indonesia, Bakso itu berasal dari bahasa china yang terdiri dari 2 kata Bak dan So. Dimana Bak artinya daging melainkan daging secara keseluruhan sedangkan so-seperti air sup/kuah sedangkan di Indonesia ditmbahkan jadi miso dan jadi mie+bak+so. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mie, bihun, taoge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng dan seledri
Tak bisa dipungkiri bahwa di setiap daerah pasti ada baso. Mengapa saya bisa berasumsi demikian? Karena di daerah tempat saya tinggal saja ada beberapa tempat baso (?), selain itu di daerah tempat tinggal saudara – saudara dan teman – teman saya pun demikian. Jadi, dapat disimpulkan bahwa baso itu termasuk makanan favorit orang Indonesia selain nasi karena tidak mungkin banyak orang yang beralih profesi sebagi pengusaha baso jika tidak ada peminatnya. Banyak sekali pengusaha bakso mulai dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar.
Berikut adalah beberapa jenis bakso yang saya dapat dari internet :
  • Bakso urat: bakso yang diisi irisan urat atau tendon dan daging tetelan kasar.
Ini adalah salah satu baso yang cukup sering saya temukan. Jadi, basonya itu tidak halus, melainkan ada teksturnya, krenyel – krenyel gitu *entah istilahnya apa. Tapi menurut saya enak kok (yang enak, ada juga yang biasa saja atau yang kurang enak, tergantung yang buat tentunya) :-D
  • Bakso bola tenis  atau bakso telur: bakso berukuran bola tenis berisi telur ayam rebus
Seperti yang telah disebutkan di atas, baso ini isinya telur. Jadi ingat waktu saya masih sekolah di SMKN 1 Tasikmalaya, kalau beli baso bareng teman di sekolah, kadang HHC *harapharapcemas baso yang besarnya isi telur atau bukan :-D. Tapi jika melihat sampel dari teman – teman saya, sepertinya bakso ini peminatnya lebih sedikit dari bakso urat.
  • Bakso gepeng: bakso berbentuk pipih
Untuk baso ini saya belum pernah coba, jadi no comment saja. :-D
  • Bakso ikan: bakso berbahan daging ikan
Selain baso sapi, baso ikan juga tak kalah peminatnya karena saya juga termasuk pecinta baso ikan. Baso ikan ini merupakan salah satu jajanan favorit saya ketika masih sekolah di SDN Sukamerang 1 s.d sekarang.
  • Bakso udang: bakso berbahan dari udang
Sama seperti baso gepeng yang belum pernah saya coba, namun jika dilihat dari bahannya yang berbahan dasar udang sepertinya rasanya lezat karena saya suka udang dan rasanya enak. J
  • Bakso Malang: hidangan bakso dari kota Malang, Jawa Timur; lengkap dengan mi kuning, tahu, siomay, dan pangsit goreng.
Saya agak lupa dengan baso ini, tapi sepertinya saya pernah mencobanya dan saya suka.
  • Bakso Solo dan Bakso Wonogiri: hidangan bakso yang berasal dari Solo dan Wonogiri, bentuknya lebih kecil dari bakso Malang dan tidak selengkap bakso Malang. Tetapi bakso Solo dan Wonogiri memiliki rasa khas sapi yang kuat. Bakso Solo dan Wonogiri terdapat campuran irisan daging sapi atau tetelan.
Walau asalnya dari Solo, tapi baso ini sudah tersebar di Indonesia dan di daerah tempat saya tinggal juga ada. Soal rasa, lidah saya bilang enak :-D
  • Bakso keju: bakso resep baru berisi keju
Unik  juga baso yang satu ini, biasanya keju digunakan untuk kue, tapi ini untuk baso. Hmm karena belum pernah mencoba, jadi saya tidak tahu rasanya, namun karena saya suka keju, sepertinya enak *mungkin.
  • Bakso Bakar: bakso yang diolesi bumbu khusus dan dibakar langsung (tanpa arang) dan disediakan bersama potongan ketupat dan kuah kaldu yang hangat dan bumbu kacang. Biasanya bumbu oles sebelum dibakar merupakan salah satu yang menentukan enak atau tidaknya bakso bakar.
Sama seperti baso sebelumnya, saya juga suka dengan baso bakar. :-D
  • Bakso kerikil : bahan daging relatif sama dengan bakso-bakso pada umumnya, namun ukuran bakso ini lebih kecil hingga disebut bakso kerikil.
Mungkin sama dengan baso – baso kecil yang ada di baso pada umumnya, dan dengan begitu saya juga suka. :-D
  • Bakso Balungan: bahan dasarnya tulang
Baru tahu dan belum pernah nyoba.
  • Bakso Goreng : bakso yang digoreng terlebih dahulu sebelum dihidangkan.
Mau digoreng, dibakar, atau digodog (?) sama - sama baso.
Itulah beberapa jenis baso yang saya temukan dari hasil pencarian saya di internet. Tentunya masih banyak jenis baso lain, namun kali ini saya hanya memberikan contoh saja.
Ok sobat, ngomong – ngomong soal bakso, saya jadi teringat pengalaman saya seminggu yang lalu tepatnya tanggal 1 Agustus 2013. Ketika itu saya baru saja selesai mengikuti PPKK. Semacam ospek di perguruan tinggi lain. Teman – teman seperjuangan yang sekosan dengan saya ingin mencoba makan di luar sebelum mudik. Maka pada malam itu kami pun caw keluar mencari makan. Di jalan saya melihat ada beberapa maba yang langsung mudik pada malam itu. Dan saya langsung bilang, “Waw keren, baru beres langsung pulkam!”.  Tentu saja saya kagum, karena pastinya semua capek. Tapi mungkin mereka sudah tidak tahan dengan penyakit malarindu kampung halaman.
Lanjut ke inti cerita, jadi akhirnya kita menemukan tempat makan mie bakso yang dekat dengan kosan. Saat itu hanya saya yang pesan baso, sedang yang lain tidak. Tapi mereka memesan mie ayam. Beberapa menit kemudian, pesanan kami pun siap. Setelah berada di hadapan masing – masing, bergantilah kegiatan kami yang asalnya ngobrol dan autis dengan HP masing – masing menjadi meracik saos, kecap, dll ke makanan yang kami pesan. Setelah itu, kami pun makan. Awalnya saya biasa saja dengan baso yang saya makan, namun lama – kelamaan saya merasa ada yang ganjil dengan baso itu. Rasanya itu aneh dan mungkin lebih tepatnya (maaf) kurang enak dan kuahnya keasinan. Sebenarnya saya sudah tak tahan lagi untuk menyantap baso tersebut, namun karena sayang terlanjur beli jadinya dipaksakan, tapi tetap saja pada akhirnya saya menyerah dan tidak melanjutkan makan lagi karena perut dan kepala saya sudah benar – benar pening dan jika dilanjut mungkin akan muntah. Padahal biasanya kalau makan bakso, saya suka sampe benar – benar habis.
Setelah semua selesai, kami berlima pun beranjak pulang, tapi tidak langsung ke kosan karena ke warnet dulu (sudah diceritakan di postingan sebelumnya). Di perjalanan, kami tertawa dan ternyata tidak hanya saya yang merasa demikian, tetapi semuanya juga merasakan hal yang sama. Dan saat itu pula kami kapok untuk makan di situ, *ops kami? maaf itu menurut saya entah yang lain, mungkin ya mungkin juga tidak.

Referensi :