Sesuai dengan judul di atas, kali
ini aku akan menceritakan pengalamanku ketika mengikuti PBNK tanggal 1-6 September
2013. Walau sudah berlalu dua minggu yang lalu, tak apa donk jika aku menceritakannya
kembali sekarang. Ok, jadi pelatihan ini biasa disebut wamil atau wajib militer
juga oleh para mahasiswa. Ya walaupun tidak terlalu berat seperti wamil yang
sesungguhnya (mungkin). Jadi, nanti ketika aku bercerita istilah ini akan
dipakai juga supaya tidak rancu kalau aku sebut PBNK. Berhubung aku masuk grup
3, jadi aku sudah cukup banyak mendengar cerita dari temanku yang grup 1 dan 2.
Jadi sudah ada gambaran kegiatannya seperti apa. Baiklah untuk yang penasaran,
check this out!
Minggu, 1 September 2013
Pukul 10.00 WIB aku sudah siap –
siap untuk berangkat ke kampus. Kebetulan ada 2 orang teman kostku yang segrup
sehingga kami pergi bersama – sama ke kampus. Sepanjang perjalanan, kami
bertiga ngobrol, sehingga bawaan yang cukup berat itu tetap terasa *lho?.
Apalagi ketika kami akan masuk kampus lewat gerbang belakang (entah istilahnya
gerbang atas atau gerbang belakang, yang pasti gerbang ini adalah gerbang yang
paling dekat dari kosan), tidak biasanya jalan kecil yang cukup untuk dilalui kami
“ditutup”, dan itu rasanya menyedihkan sekali. Alhasil, kita harus masuk lewat
gerbang utama. Setengah perjalanan lagi menuju ke sana namun kami harus tetap
semangat.
Sesampainya di kampus, ada
pengumuman kalau maba disuruh masuk ke pendopo. Tapi berhubung kami belum
menyiapkan bekal dan ketika itu belum pukul 11.00 WIB, maka kami bertiga belok
dulu ke pujasera. Di sana ternyata ada juga beberapa maba yang sedang beli
makanan, jadi kami santai dulu saja. Setelah makanan sudah siap, kami pun
berjalan menuju pendopo dan di tengah jalan kami berjumpa dengan teteh – teteh,
“kalian yang mau wamil grup 3 kan?”. “iya teh.” “itu udah pada kumpul di
pendopo”. “wah masa, teh?” (pura – pura kaget padahal udah tau). “iya”. “oh
yaudah atuh teh, duluan.” (sambil masang mimik n gestur orang yang lagi buru –
buru). :-D
Di pendopo ternyata anak – anak
telah baris menurut kelompok dan sedang diabsen. Langsung saja ketika melihat
ada yang pegang kertas bertuliskan “37”, aku langsung masuk ke barisan. Setelah
itu kami dipersilakan duduk untuk menunggu giliran membawa baju dan training
untuk wamil di direktorat. Grup 3 itu ternyata dari kelompok 29-42. Dan karena
aku kelompok 37, jadinya cukup lama menunggu. Akhirnya bekal yang tadi dibeli
dari pujasera aku makan saja. Barulah setelah shalat dzuhur, tiba giliran
kelompokku untuk membawa baju ke direktorat. Akhirnyaa..
Karena kendaraan yang cukup limit,
kami semua dibagi menjadi 2 kloter. Kloter pertama kelompok 29-35 dan kloter
kedua kelompok 36-40. Nah, yang 41 n 42 gimana? Jadi ternyata ketika aku ke
pujasera, kelompok 41 n 42 itu dipecah lagi dan dimasukkan ke kelompok lain,
sehingga semuanya terbagi menjadi 12 kelompok, bukan 14 lagi. Lagi lagi
menunggu. Ya, itulah hal yang paling membosankan. Mana ketika itu rasa ngantuk
melanda, mau tidur tanggung, tapi setelah dicoba tidur malah susah. Dan
akhirnya pada sekitar pukul 14.00 WIB, kendaraan pengangkut kami datang. Setelah dibariskan dan masuk ke kendaraan,
akhirnya aku kebagian di bus bertuliskan “rombongan polban 6” (kalau tidak
salah, kurang lebih seperti itu :-D). Aku dapat tempat duduk paling belakang di
pojok kanan. Tempat yang cukup pw untuk tidur, dan setelah bus melaju, beberapa
saat kemudian aku tak sadarkan diri. Zzzz.
(jeglig, jedug, gubrag!) Aku
terbangun dari tidurku yang biasa saja itu dan melihat pemandangan bahwa bus
yang aku tumpangi telah memasuki kompleks TNI. Dan itu artinya sebentar lagi
kami akan tiba di tempat tujuan yaitu Pusdikhub Kodiklat TNI AD Cimahi.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di sana dan setelah itu kami langsung
dibariskan untuk masuk ke barak. Aku kebagian di barak yang dekat dapur dan
dapat kasur di ujung tapi gk ujung – ujung banget. Intinya lumayan jauh menuju
pintu keluar.
Sore itu kami langsung ditensi dan
difoto untuk sertifikat. Kami diajarkan 2 buah lagu, Mars Pusdikhub dan yang
satunya lupa entah apa judulnya yang pasti lagu itu sudah tidak asing karena
pernah dipelajari ketika waktu SMP, hanya ada beberapa lirik yang ditambah.
Kurang lebih lagunya seperti ini :
Tinggalkan ayah tinggalkan ibu
izinkan kami pergi berlatih
di bawah kibaran sang merah putih
majulah ayo maju menyerbu, serbu
Tidak kembali pulang
Sebelum kita yang menang
Walau mayat terdampar di medan perang
Demi bangsa kamilah berjuang
Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkan dia dia dia
Kikis habislah mereka
Demi Negara Indonesia
Wahai kawanku mahasiswa polban
Di mana engkau berada? Di sini
Teruskan perjuangan para pahlawan
Demi bangsa kamilah berjuang,
berjuang
Itulah lagu yang diajarkan oleh
komandan. Dan katanya setiap ada perpindahan harus baris sambil nyanyi. Agak
ribet juga sih awalnya, tapi ya memang itu aturannya.
Setelah pembersihan (istilah lain
dari kegiatan di jamban : mandi, dll) dan membereskan pakaian di lemari, lalu
dilanjutkan makan sore menuju malam (makan maghrib tepatnya :D). Sebelum makan,
kita harus disiapkan terlebih dahulu (duduk siaap grak!), lalu berdo’a
(mengawali makan malam, berdo’a mulai!) dan setelah diistirahatkan (istirahat
di tempaat grak! Selamat makan!) barulah kita boleh makan. Makan di sini bukan
sembarang makan. Tubuh kita harus tegak dan istilahnya sendok yang nyamperin
mulut bukan mulut yang nyamperin sendok *nah lho?. Makanan di Pusdikhub enak, tapi kurang bisa
dinikmati berhubung waktunya yang limit banget. Jadi klo mau makan banyak,
harus cepat.
Malamnya kami dikumpulkan dalam
satu kelas yang bernama Ahmad Yani, di sana kami diberi pengarahan untuk
kegiatan yang akan kami lalui selama 5 hari ke depan.
Senin, 2 September 2013
Setiap acara pasti ada pembukaan. Begitu
pula dengan pelatihan ini, yang dibuka dengan upacara pembukaan PBNK grup 3 di
lapangan (anak kecil juga tau kaleee :D). Untuk kronologi lebih jelasnya aku
sudah agak lupa, pokoknya sebelum dan setelah upacara itu ada materi di kelas,
hehe :D
Selasa, 3 September 2013
Hari ini kegiatan di lapangan.
Setelah shalat shubuh kami tidak berganti pakaian, tetapi tetap mengenakan kaos
dan training seragam dari polban. Untuk kelas B, pertama – tama kami diberi
materi mengenai PBB (Peraturan Baris – Berbaris). Setelah itu ada materi di
ruangan juga, dan itu rasanyaaa ngantuk banget. Padahal waktu paginya aku
nyeduh kopi dulu. Tapi ternyata tidak mempan. Aku tetap aja ngantuk waktu di
kelas. Pokoknya hebat banget orang – orang yang tidak pernah ngantuk saat ada
materi di ruangan.
Siang setelah isoma, kami diberi
materi BDM. Apa itu BDM? BDM bukan Bahan Dakar Minyak lho yaa, *ops. BDM itu
singkatan dari Bela Diri Militer. Klo dari judulnya sih kayaknya emang keren. Tapi
aslinya keren juga klo dipraktekin sama yang bisa :-D. Kami diajarkan gerakan
dasar kuda – kuda, pukulan dan tendangan. Gerakannya tidak jauh beda dengan
bela diri pada umumnya, Cuma yaa beda – beda dikit lah. Nah, yang paling beda
yaitu dari suara. Kan klo bela diri yang lain itu tiap ada pukulan, tendangan
atau ganti kuda – kuda biasanya teriak “aaargh!”, “eaagh!”, “hiyaaa!”, “haaiiigh!”,
yaa kurang lebih seperti itu lah, tapi klo BDM bilangnya “JAS!”. Pantas saja
teman – temanku yang sudah wamil duluan suka cerita – cerita soal “jas”, eh
ternyata itu pas BDM :-D. Lumayan lah dapat ilmu baru setelah sekian lama gk
latihan bela diri *curhat.
Rabu, 4 September 2013
HTF.
How to fight? Itulah jadwal pelatihan kami hari Rabu. Seperti hari
Selasa, kami mengenakan
training dan
kaos loreng. Walau sudah agak lumayan kena keringat waktu Selasa, tapi yaa gpp
lah, kan semuanya gitu :-D. Ok, jadi HTF ini kurang lebih kayak outbond gitu
kawan. Jadi di sana ada beberapa wahana (kayak di Dufan aja wahana :D), di
antaranya ada snapling, rayapan tali 2, jembatan tali 3, jaring, tali temali. Dan
setelah dikocok, akhirnya pletonku kebagian rayapan tali 2 dulu. Untuk yang
belum tahu rayapan tali 2 itu seperti apa, aku deskripsikan deh. Jadi ada dua
tali tambang besar (entah aslinya cuma satu atau memang dua tapi dijadikan dua)
yang dihubungkan di dua pohon besar, jarak dari dasar ke tali ± 2,5 – 3 meter,
jarak dari pohon ke pohon ± 8 – 10 meter. Nah untuk melewatinya dengan cara
merayap di dua tali tersebut.
 |
| salah satu teman yang sedang melaksanakan rayapan tali dua :) |
|
Jika melihat komandan yang
memperagakan sepertinya mudah, tapi aslinya ya ampuun “waw” banget deh. Awalnya
lumayan bersemangat tapi kecepatannya malah terus berkurang. Rasanya panas kena
gesekan tali tambang yang besar – besar itu, jarak yang kelihatannya dekat
serasa menjadi jauh ketika sudah di atas. Akhirnya maju berhenti maju berhenti.
Namun perlahan tapi pasti akhirnya aku sampai juga di ujung. Dan itu rasanya
legaaa banget.
Awalnya yang mau mencoba tantangan
itu hanya sebagian (sebagian kecil maksudnya), tapi akhirnya semua disuruh
mencoba termasuk yang fobia ketinggian. Kami saling menyemangati satu sama lain
supaya bisa sampai di finish. Jika dibandingkan dengan tantangan yang lain,
rayapan tali 2 itu sepertinya yang paling sulit. Makanya, pleton kami cukup
menghabiskan waktu dan alhasil hanya mencoba satu permainan saja. Padahal kami
ingin mencoba snapling, tapi berhubung waktunya sudah habis kami harus puas
mencoba rayapan tali 2 saja :/.
Sore harinya ketika pembersihan,
aku mendapati tubuhku yang jadi ungu – ungu. Waw, biasanya kan memar kayak gitu
munculnya keesokan harinya tapi ini langsung. Parah deh, cuma naik rayapan tali
2 aja *cuma? efeknya malah gitu. Klo yang lain sih paling pegel – pegel aja. Tapi
yaa bagaimanapun itu tetap harus dinikmati. Setidaknya jadi dapet pengalaman
baru dan bisa buat bahan cerita seperti sekarang ini, hehe.
Kamis, 5 September 2013
H-1 penutupan. Pertama tiba di
Pusdikhub rasanya lama banget pengen cepat selesai, tapi setelah dijalani
ternyata tak terasa sudah mau berakhir lagi. Hari ini bertepatan dengan dibukanya pengumuman USM STAN. Deg deg gan?
Rasanya aku biasa saja, karena pada saat itu aku sedang wamil sehingga tidak bisa melihat langsung pengumumannya karena gk ada
media (lewat HP gk bisa, maklum HPnya kurang canggih, haha :D). Setelah
mandi pagi, aku buka fb dan katanya pengumuman itu sudah ada, aku
menanyakan hasilnya ke teman yg ada di grup, trus ternyata gk ada nama
aku. Lalu setelah shalat shubuh aku ngsms teman, minta tolong untuk
melihat pengumuman tersebut dan ternyata memang tidak ada nama aku di
situ. Kecewa pasti ada, itu wajar menurutku. Tapi semua telah terjadi,
dan gk bisa diulang lagi. Apalagi pada saat itu banyak sms masuk dari
temen2 yang nanya hasil pengumuman itu. Rasanya pingin nangis, tapi gk
bisa. Klo kata istilah orang – orang sih kayaknya waktu itu aku memang
tersenyum tapi dalam hati menangis, haha :D. Tapi belum sempat aku
membalas semua, para mahasiswa diperintahkan untuk persiapan sarapan.
Entah mungkin karena kecewa atau bagaimana, setelah duduk di ruang
makan, aku merasakan lapar yang amat dahsyat dan setelah dipersilakan
makan, teman makanku ada yang tidak mau makan semua jatah lauk pauknya,
jadi diberikan ke aku. Alhamdulillah :)
Setelah masuk kelas,
beberapa saat kemudian rasa kantuk melanda para siswa termasuk aku.
Ngantuk, gk enak hati, malas, pokoknya saat itu aku berada dalam keadaan
yang gk enak banget. Komandan yang memberi materi tidak terlalu
diperhatikan olehku. Hingga akhirnya di suatu sesi beliau menceritakan
pengalaman keponakannya yang mengalami banyak kegagalan ketika masuk
kuliah, walau akhirnya dia berhasil. Dan akhirnya aku sadar kalau aku
masih beruntung jika dibandingkan dengannya. Mulailah ada pencerahan :)
Malam
terakhir di pusdikhub peserta pelatihan diberi renungan dengan lampu
yang dimatikan dan backsoundnya pake lagu Syukur. Lumayan merinding juga
dengernya, dan akhirnya air mata itu tumpah *dramatisir. Menangis, ya
itu dia yang terjadi pada saat itu. Alhamdulillah, akhirnya bisa nangis
juga. Lega rasanya, walau sedih aku tak tahu porsinya sedih karena apa.
Entah itu sedih karena ingat mati, ingat ortu, akan meninggalkan
pusdikhub, atau karena pengumuman tadi pagi (?). Entahlah, yang pasti
aku merasa lebih baik.
Jika malam – malam sebelumnya setelah
selesai materi aku langsung ke barak, berbeda dengan malam terakhir ini.
Aku menyempatkan diri untuk mengunjungi kantin. Yaa walaupun aku gk
jajan, tapi ikut aja nimbrung sama anak – anak yang sepleton (C1). Walau
baru kenal, tapi mereka lumayan seru dan pada malam itu aku merasa
terhibur. Yang asalnya bad mood jadi good mood :). Dan akhirnya
bersyukur dengan apa yang telah diberi oleh Allah untukku. Aku harus
yakin klo ini adalah yang terbaik untukku. Harus yakin klo rencana Allah
itu indah :). Berusaha untuk tidak mengeluh dan bersyukur. Keep qana’ah
:)…
 |
| Pleton C1 |
|
Jumat, 6 September 2013
Hari terakhir di pusdikhub. Materinya
tentang 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara, pokoknya Indonesia bangetlah. Nambah rasa
nasionalisme. Seteleh itu dilanjutkan dengan persiapan upacara penutupan dan
setelah itu penutupan deh. Entah apa yang aku rasakan hari itu rasanya nano –
nano, senang, sedih, lega, dan lain – lain semua bercampur jadi satu. Apalagi ketika pulang melewati Dinas Jasmani AD yang waktu itu dipakai untuk tes kesehatan dan kebugaran, jadi sedih. Tapi ya sudahlah. Pokoknya
pengalaman ini berkesan (klo gk, gk akan aku buat ceritanya :-D)
Itulah pengalamanku tentang
Pelatihan Bela Negara dan Kedisiplinan di Pusdikhub. Mohon maaf jika ada bahasa
yang kurang enak dan menyinggung pihak – pihak tertentu, dan bahasanya yang
campur aduk :-),
serta dengan ceritanya yang kurang detail, berhubung sudah agak lupa.
Akhirul kalam, saya ucapkan terima
kasih. :-)