Translate

Sabtu, 28 September 2013

Pelatihan Bela Negara dan Kedisiplinan Mahasiswa Polban 2013




Sesuai dengan judul di atas, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku ketika mengikuti PBNK tanggal 1-6 September 2013. Walau sudah berlalu dua minggu yang lalu, tak apa donk jika aku menceritakannya kembali sekarang. Ok, jadi pelatihan ini biasa disebut wamil atau wajib militer juga oleh para mahasiswa. Ya walaupun tidak terlalu berat seperti wamil yang sesungguhnya (mungkin). Jadi, nanti ketika aku bercerita istilah ini akan dipakai juga supaya tidak rancu kalau aku sebut PBNK. Berhubung aku masuk grup 3, jadi aku sudah cukup banyak mendengar cerita dari temanku yang grup 1 dan 2. Jadi sudah ada gambaran kegiatannya seperti apa. Baiklah untuk yang penasaran, check this out!

Minggu, 1 September 2013
Pukul 10.00 WIB aku sudah siap – siap untuk berangkat ke kampus. Kebetulan ada 2 orang teman kostku yang segrup sehingga kami pergi bersama – sama ke kampus. Sepanjang perjalanan, kami bertiga ngobrol, sehingga bawaan yang cukup berat itu tetap terasa *lho?. Apalagi ketika kami akan masuk kampus lewat gerbang belakang (entah istilahnya gerbang atas atau gerbang belakang, yang pasti gerbang ini adalah gerbang yang paling dekat dari kosan), tidak biasanya jalan kecil yang cukup untuk dilalui kami “ditutup”, dan itu rasanya menyedihkan sekali. Alhasil, kita harus masuk lewat gerbang utama. Setengah perjalanan lagi menuju ke sana namun kami harus tetap semangat.
Sesampainya di kampus, ada pengumuman kalau maba disuruh masuk ke pendopo. Tapi berhubung kami belum menyiapkan bekal dan ketika itu belum pukul 11.00 WIB, maka kami bertiga belok dulu ke pujasera. Di sana ternyata ada juga beberapa maba yang sedang beli makanan, jadi kami santai dulu saja. Setelah makanan sudah siap, kami pun berjalan menuju pendopo dan di tengah jalan kami berjumpa dengan teteh – teteh, “kalian yang mau wamil grup 3 kan?”. “iya teh.” “itu udah pada kumpul di pendopo”. “wah masa, teh?” (pura – pura kaget padahal udah tau). “iya”. “oh yaudah atuh teh, duluan.” (sambil masang mimik n gestur orang yang lagi buru – buru). :-D
Di pendopo ternyata anak – anak telah baris menurut kelompok dan sedang diabsen. Langsung saja ketika melihat ada yang pegang kertas bertuliskan “37”, aku langsung masuk ke barisan. Setelah itu kami dipersilakan duduk untuk menunggu giliran membawa baju dan training untuk wamil di direktorat. Grup 3 itu ternyata dari kelompok 29-42. Dan karena aku kelompok 37, jadinya cukup lama menunggu. Akhirnya bekal yang tadi dibeli dari pujasera aku makan saja. Barulah setelah shalat dzuhur, tiba giliran kelompokku untuk membawa baju ke direktorat. Akhirnyaa..
Karena kendaraan yang cukup limit, kami semua dibagi menjadi 2 kloter. Kloter pertama kelompok 29-35 dan kloter kedua kelompok 36-40. Nah, yang 41 n 42 gimana? Jadi ternyata ketika aku ke pujasera, kelompok 41 n 42 itu dipecah lagi dan dimasukkan ke kelompok lain, sehingga semuanya terbagi menjadi 12 kelompok, bukan 14 lagi. Lagi lagi menunggu. Ya, itulah hal yang paling membosankan. Mana ketika itu rasa ngantuk melanda, mau tidur tanggung, tapi setelah dicoba tidur malah susah. Dan akhirnya pada sekitar pukul 14.00 WIB, kendaraan pengangkut kami datang.  Setelah dibariskan dan masuk ke kendaraan, akhirnya aku kebagian di bus bertuliskan “rombongan polban 6” (kalau tidak salah, kurang lebih seperti itu :-D). Aku dapat tempat duduk paling belakang di pojok kanan. Tempat yang cukup pw untuk tidur, dan setelah bus melaju, beberapa saat kemudian aku tak sadarkan diri. Zzzz.
(jeglig, jedug, gubrag!) Aku terbangun dari tidurku yang biasa saja itu dan melihat pemandangan bahwa bus yang aku tumpangi telah memasuki kompleks TNI. Dan itu artinya sebentar lagi kami akan tiba di tempat tujuan yaitu Pusdikhub Kodiklat TNI AD Cimahi. Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di sana dan setelah itu kami langsung dibariskan untuk masuk ke barak. Aku kebagian di barak yang dekat dapur dan dapat kasur di ujung tapi gk ujung – ujung banget. Intinya lumayan jauh menuju pintu keluar.
Sore itu kami langsung ditensi dan difoto untuk sertifikat. Kami diajarkan 2 buah lagu, Mars Pusdikhub dan yang satunya lupa entah apa judulnya yang pasti lagu itu sudah tidak asing karena pernah dipelajari ketika waktu SMP, hanya ada beberapa lirik yang ditambah. Kurang lebih lagunya seperti ini :
Tinggalkan ayah tinggalkan ibu
izinkan kami pergi berlatih
di bawah kibaran sang merah putih
majulah ayo maju menyerbu, serbu
Tidak kembali pulang
Sebelum kita yang menang
Walau mayat terdampar di medan perang
Demi bangsa kamilah berjuang
Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkan dia dia dia
Kikis habislah mereka
Demi Negara Indonesia
Wahai kawanku mahasiswa polban
Di mana engkau berada? Di sini
Teruskan perjuangan para pahlawan
Demi bangsa kamilah berjuang, berjuang
Itulah lagu yang diajarkan oleh komandan. Dan katanya setiap ada perpindahan harus baris sambil nyanyi. Agak ribet juga sih awalnya, tapi ya memang itu aturannya.
Setelah pembersihan (istilah lain dari kegiatan di jamban : mandi, dll) dan membereskan pakaian di lemari, lalu dilanjutkan makan sore menuju malam (makan maghrib tepatnya :D). Sebelum makan, kita harus disiapkan terlebih dahulu (duduk siaap grak!), lalu berdo’a (mengawali makan malam, berdo’a mulai!) dan setelah diistirahatkan (istirahat di tempaat grak! Selamat makan!) barulah kita boleh makan. Makan di sini bukan sembarang makan. Tubuh kita harus tegak dan istilahnya sendok yang nyamperin mulut bukan mulut yang nyamperin sendok *nah lho?.  Makanan di Pusdikhub enak, tapi kurang bisa dinikmati berhubung waktunya yang limit banget. Jadi klo mau makan banyak, harus cepat.
Malamnya kami dikumpulkan dalam satu kelas yang bernama Ahmad Yani, di sana kami diberi pengarahan untuk kegiatan yang akan kami lalui selama 5 hari ke depan.

Senin, 2 September 2013
Setiap acara pasti ada pembukaan. Begitu pula dengan pelatihan ini, yang dibuka dengan upacara pembukaan PBNK grup 3 di lapangan (anak kecil juga tau kaleee :D). Untuk kronologi lebih jelasnya aku sudah agak lupa, pokoknya sebelum dan setelah upacara itu ada materi di kelas, hehe :D

Selasa, 3 September 2013
Hari ini kegiatan di lapangan. Setelah shalat shubuh kami tidak berganti pakaian, tetapi tetap mengenakan kaos dan training seragam dari polban. Untuk kelas B, pertama – tama kami diberi materi mengenai PBB (Peraturan Baris – Berbaris). Setelah itu ada materi di ruangan juga, dan itu rasanyaaa ngantuk banget. Padahal waktu paginya aku nyeduh kopi dulu. Tapi ternyata tidak mempan. Aku tetap aja ngantuk waktu di kelas. Pokoknya hebat banget orang – orang yang tidak pernah ngantuk saat ada materi di ruangan.
Siang setelah isoma, kami diberi materi BDM. Apa itu BDM? BDM bukan Bahan Dakar Minyak lho yaa, *ops. BDM itu singkatan dari Bela Diri Militer. Klo dari judulnya sih kayaknya emang keren. Tapi aslinya keren juga klo dipraktekin sama yang bisa :-D. Kami diajarkan gerakan dasar kuda – kuda, pukulan dan tendangan. Gerakannya tidak jauh beda dengan bela diri pada umumnya, Cuma yaa beda – beda dikit lah. Nah, yang paling beda yaitu dari suara. Kan klo bela diri yang lain itu tiap ada pukulan, tendangan atau ganti kuda – kuda biasanya teriak “aaargh!”, “eaagh!”, “hiyaaa!”, “haaiiigh!”, yaa kurang lebih seperti itu lah, tapi klo BDM bilangnya “JAS!”. Pantas saja teman – temanku yang sudah wamil duluan suka cerita – cerita soal “jas”, eh ternyata itu pas BDM :-D. Lumayan lah dapat ilmu baru setelah sekian lama gk latihan bela diri *curhat.

Rabu, 4 September 2013
HTF. How to fight? Itulah jadwal pelatihan kami hari Rabu. Seperti hari Selasa, kami mengenakan  training dan kaos loreng. Walau sudah agak lumayan kena keringat waktu Selasa, tapi yaa gpp lah, kan semuanya gitu :-D. Ok, jadi HTF ini kurang lebih kayak outbond gitu kawan. Jadi di sana ada beberapa wahana (kayak di Dufan aja wahana :D), di antaranya ada snapling, rayapan tali 2, jembatan tali 3, jaring, tali temali. Dan setelah dikocok, akhirnya pletonku kebagian rayapan tali 2 dulu. Untuk yang belum tahu rayapan tali 2 itu seperti apa, aku deskripsikan deh. Jadi ada dua tali tambang besar (entah aslinya cuma satu atau memang dua tapi dijadikan dua) yang dihubungkan di dua pohon besar, jarak dari dasar ke tali ± 2,5 – 3 meter, jarak dari pohon ke pohon ± 8 – 10 meter. Nah untuk melewatinya dengan cara merayap di dua tali tersebut.
salah satu teman yang sedang melaksanakan rayapan tali dua :)
Jika melihat komandan yang memperagakan sepertinya mudah, tapi aslinya ya ampuun “waw” banget deh. Awalnya lumayan bersemangat tapi kecepatannya malah terus berkurang. Rasanya panas kena gesekan tali tambang yang besar – besar itu, jarak yang kelihatannya dekat serasa menjadi jauh ketika sudah di atas. Akhirnya maju berhenti maju berhenti. Namun perlahan tapi pasti akhirnya aku sampai juga di ujung. Dan itu rasanya legaaa banget.
Awalnya yang mau mencoba tantangan itu hanya sebagian (sebagian kecil maksudnya), tapi akhirnya semua disuruh mencoba termasuk yang fobia ketinggian. Kami saling menyemangati satu sama lain supaya bisa sampai di finish. Jika dibandingkan dengan tantangan yang lain, rayapan tali 2 itu sepertinya yang paling sulit. Makanya, pleton kami cukup menghabiskan waktu dan alhasil hanya mencoba satu permainan saja. Padahal kami ingin mencoba snapling, tapi berhubung waktunya sudah habis kami harus puas mencoba rayapan tali 2 saja :/.
Sore harinya ketika pembersihan, aku mendapati tubuhku yang jadi ungu – ungu. Waw, biasanya kan memar kayak gitu munculnya keesokan harinya tapi ini langsung. Parah deh, cuma naik rayapan tali 2 aja *cuma? efeknya malah gitu. Klo yang lain sih paling pegel – pegel aja. Tapi yaa bagaimanapun itu tetap harus dinikmati. Setidaknya jadi dapet pengalaman baru dan bisa buat bahan cerita seperti sekarang ini, hehe.

Kamis, 5 September 2013
            H-1 penutupan. Pertama tiba di Pusdikhub rasanya lama banget pengen cepat selesai, tapi setelah dijalani ternyata tak terasa sudah mau berakhir lagi. Hari ini bertepatan dengan dibukanya pengumuman USM STAN. Deg deg gan? Rasanya aku biasa saja, karena pada saat itu aku sedang wamil sehingga tidak bisa melihat langsung pengumumannya karena gk ada media (lewat HP gk bisa, maklum HPnya kurang canggih, haha :D). Setelah mandi pagi, aku buka fb dan katanya pengumuman itu sudah ada, aku menanyakan hasilnya ke teman yg ada di grup, trus ternyata gk ada nama aku. Lalu setelah shalat shubuh aku ngsms teman, minta tolong untuk melihat pengumuman tersebut dan ternyata memang tidak ada nama aku di situ. Kecewa pasti ada, itu wajar menurutku. Tapi semua telah terjadi, dan gk bisa diulang lagi. Apalagi pada saat itu banyak sms masuk dari temen2 yang nanya hasil pengumuman itu. Rasanya pingin nangis, tapi gk bisa. Klo kata istilah orang – orang sih kayaknya waktu itu aku memang tersenyum tapi dalam hati menangis, haha :D. Tapi belum sempat aku membalas semua, para mahasiswa diperintahkan untuk persiapan sarapan. Entah mungkin karena kecewa atau bagaimana, setelah duduk di ruang makan, aku merasakan lapar yang amat dahsyat dan setelah dipersilakan makan, teman makanku ada yang tidak mau makan semua jatah lauk pauknya, jadi diberikan ke aku. Alhamdulillah :)

            Setelah  masuk kelas, beberapa saat kemudian rasa kantuk melanda para siswa termasuk aku. Ngantuk, gk enak hati, malas, pokoknya saat itu aku berada dalam keadaan yang gk enak banget. Komandan yang memberi materi tidak terlalu diperhatikan olehku. Hingga akhirnya di suatu sesi beliau menceritakan pengalaman keponakannya yang mengalami banyak kegagalan ketika masuk kuliah, walau akhirnya dia berhasil. Dan akhirnya aku sadar kalau aku masih beruntung jika dibandingkan dengannya. Mulailah ada pencerahan :)
            Malam terakhir di pusdikhub peserta pelatihan diberi renungan dengan lampu yang dimatikan dan backsoundnya pake lagu Syukur. Lumayan merinding juga dengernya, dan akhirnya air mata itu tumpah *dramatisir. Menangis, ya itu dia yang terjadi pada saat itu. Alhamdulillah, akhirnya bisa nangis juga. Lega rasanya, walau sedih aku tak tahu porsinya sedih karena apa. Entah itu sedih karena ingat mati, ingat ortu, akan meninggalkan pusdikhub, atau karena pengumuman tadi pagi (?). Entahlah, yang pasti aku merasa lebih baik.
            Jika malam – malam sebelumnya setelah selesai materi aku langsung ke barak, berbeda dengan malam terakhir ini. Aku menyempatkan diri untuk mengunjungi kantin. Yaa walaupun aku gk jajan, tapi ikut aja nimbrung sama anak – anak yang sepleton (C1). Walau baru kenal, tapi mereka lumayan seru dan pada malam itu aku merasa terhibur. Yang asalnya bad mood jadi good mood :). Dan akhirnya bersyukur dengan apa yang telah diberi oleh Allah untukku. Aku harus yakin klo ini adalah yang terbaik untukku. Harus yakin klo rencana Allah itu indah :). Berusaha untuk tidak mengeluh dan bersyukur. Keep qana’ah :)…
Pleton C1


Jumat, 6 September 2013
Hari terakhir di pusdikhub. Materinya tentang 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara, pokoknya Indonesia bangetlah. Nambah rasa nasionalisme. Seteleh itu dilanjutkan dengan persiapan upacara penutupan dan setelah itu penutupan deh. Entah apa yang aku rasakan hari itu rasanya nano – nano, senang, sedih, lega, dan lain – lain semua bercampur jadi satu. Apalagi ketika pulang melewati Dinas Jasmani AD yang waktu itu dipakai untuk tes kesehatan dan kebugaran, jadi sedih. Tapi ya sudahlah. Pokoknya pengalaman ini berkesan (klo gk, gk akan aku buat ceritanya :-D)
Itulah pengalamanku tentang Pelatihan Bela Negara dan Kedisiplinan di Pusdikhub. Mohon maaf jika ada bahasa yang kurang enak dan menyinggung pihak – pihak tertentu, dan bahasanya yang campur aduk :-), serta dengan ceritanya yang kurang detail, berhubung sudah agak lupa.
Akhirul kalam, saya ucapkan terima kasih. :-)