Translate

Sabtu, 10 Agustus 2013

BAKSO apa BASO?



BAKSO apa BASO?
Tahukah kalian apa itu bakso? Saya yakin yang baca postingan ini pasti tahu. Bakso atau yang lebih sering kita dengar baso ini merupakan salah satu makanan favorit di Nusantara *sotoy (tapi sepertinya memang benar). Dalam bahasa Indonesia, Bakso itu berasal dari bahasa china yang terdiri dari 2 kata Bak dan So. Dimana Bak artinya daging melainkan daging secara keseluruhan sedangkan so-seperti air sup/kuah sedangkan di Indonesia ditmbahkan jadi miso dan jadi mie+bak+so. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mie, bihun, taoge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng dan seledri
Tak bisa dipungkiri bahwa di setiap daerah pasti ada baso. Mengapa saya bisa berasumsi demikian? Karena di daerah tempat saya tinggal saja ada beberapa tempat baso (?), selain itu di daerah tempat tinggal saudara – saudara dan teman – teman saya pun demikian. Jadi, dapat disimpulkan bahwa baso itu termasuk makanan favorit orang Indonesia selain nasi karena tidak mungkin banyak orang yang beralih profesi sebagi pengusaha baso jika tidak ada peminatnya. Banyak sekali pengusaha bakso mulai dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar.
Berikut adalah beberapa jenis bakso yang saya dapat dari internet :
  • Bakso urat: bakso yang diisi irisan urat atau tendon dan daging tetelan kasar.
Ini adalah salah satu baso yang cukup sering saya temukan. Jadi, basonya itu tidak halus, melainkan ada teksturnya, krenyel – krenyel gitu *entah istilahnya apa. Tapi menurut saya enak kok (yang enak, ada juga yang biasa saja atau yang kurang enak, tergantung yang buat tentunya) :-D
  • Bakso bola tenis  atau bakso telur: bakso berukuran bola tenis berisi telur ayam rebus
Seperti yang telah disebutkan di atas, baso ini isinya telur. Jadi ingat waktu saya masih sekolah di SMKN 1 Tasikmalaya, kalau beli baso bareng teman di sekolah, kadang HHC *harapharapcemas baso yang besarnya isi telur atau bukan :-D. Tapi jika melihat sampel dari teman – teman saya, sepertinya bakso ini peminatnya lebih sedikit dari bakso urat.
  • Bakso gepeng: bakso berbentuk pipih
Untuk baso ini saya belum pernah coba, jadi no comment saja. :-D
  • Bakso ikan: bakso berbahan daging ikan
Selain baso sapi, baso ikan juga tak kalah peminatnya karena saya juga termasuk pecinta baso ikan. Baso ikan ini merupakan salah satu jajanan favorit saya ketika masih sekolah di SDN Sukamerang 1 s.d sekarang.
  • Bakso udang: bakso berbahan dari udang
Sama seperti baso gepeng yang belum pernah saya coba, namun jika dilihat dari bahannya yang berbahan dasar udang sepertinya rasanya lezat karena saya suka udang dan rasanya enak. J
  • Bakso Malang: hidangan bakso dari kota Malang, Jawa Timur; lengkap dengan mi kuning, tahu, siomay, dan pangsit goreng.
Saya agak lupa dengan baso ini, tapi sepertinya saya pernah mencobanya dan saya suka.
  • Bakso Solo dan Bakso Wonogiri: hidangan bakso yang berasal dari Solo dan Wonogiri, bentuknya lebih kecil dari bakso Malang dan tidak selengkap bakso Malang. Tetapi bakso Solo dan Wonogiri memiliki rasa khas sapi yang kuat. Bakso Solo dan Wonogiri terdapat campuran irisan daging sapi atau tetelan.
Walau asalnya dari Solo, tapi baso ini sudah tersebar di Indonesia dan di daerah tempat saya tinggal juga ada. Soal rasa, lidah saya bilang enak :-D
  • Bakso keju: bakso resep baru berisi keju
Unik  juga baso yang satu ini, biasanya keju digunakan untuk kue, tapi ini untuk baso. Hmm karena belum pernah mencoba, jadi saya tidak tahu rasanya, namun karena saya suka keju, sepertinya enak *mungkin.
  • Bakso Bakar: bakso yang diolesi bumbu khusus dan dibakar langsung (tanpa arang) dan disediakan bersama potongan ketupat dan kuah kaldu yang hangat dan bumbu kacang. Biasanya bumbu oles sebelum dibakar merupakan salah satu yang menentukan enak atau tidaknya bakso bakar.
Sama seperti baso sebelumnya, saya juga suka dengan baso bakar. :-D
  • Bakso kerikil : bahan daging relatif sama dengan bakso-bakso pada umumnya, namun ukuran bakso ini lebih kecil hingga disebut bakso kerikil.
Mungkin sama dengan baso – baso kecil yang ada di baso pada umumnya, dan dengan begitu saya juga suka. :-D
  • Bakso Balungan: bahan dasarnya tulang
Baru tahu dan belum pernah nyoba.
  • Bakso Goreng : bakso yang digoreng terlebih dahulu sebelum dihidangkan.
Mau digoreng, dibakar, atau digodog (?) sama - sama baso.
Itulah beberapa jenis baso yang saya temukan dari hasil pencarian saya di internet. Tentunya masih banyak jenis baso lain, namun kali ini saya hanya memberikan contoh saja.
Ok sobat, ngomong – ngomong soal bakso, saya jadi teringat pengalaman saya seminggu yang lalu tepatnya tanggal 1 Agustus 2013. Ketika itu saya baru saja selesai mengikuti PPKK. Semacam ospek di perguruan tinggi lain. Teman – teman seperjuangan yang sekosan dengan saya ingin mencoba makan di luar sebelum mudik. Maka pada malam itu kami pun caw keluar mencari makan. Di jalan saya melihat ada beberapa maba yang langsung mudik pada malam itu. Dan saya langsung bilang, “Waw keren, baru beres langsung pulkam!”.  Tentu saja saya kagum, karena pastinya semua capek. Tapi mungkin mereka sudah tidak tahan dengan penyakit malarindu kampung halaman.
Lanjut ke inti cerita, jadi akhirnya kita menemukan tempat makan mie bakso yang dekat dengan kosan. Saat itu hanya saya yang pesan baso, sedang yang lain tidak. Tapi mereka memesan mie ayam. Beberapa menit kemudian, pesanan kami pun siap. Setelah berada di hadapan masing – masing, bergantilah kegiatan kami yang asalnya ngobrol dan autis dengan HP masing – masing menjadi meracik saos, kecap, dll ke makanan yang kami pesan. Setelah itu, kami pun makan. Awalnya saya biasa saja dengan baso yang saya makan, namun lama – kelamaan saya merasa ada yang ganjil dengan baso itu. Rasanya itu aneh dan mungkin lebih tepatnya (maaf) kurang enak dan kuahnya keasinan. Sebenarnya saya sudah tak tahan lagi untuk menyantap baso tersebut, namun karena sayang terlanjur beli jadinya dipaksakan, tapi tetap saja pada akhirnya saya menyerah dan tidak melanjutkan makan lagi karena perut dan kepala saya sudah benar – benar pening dan jika dilanjut mungkin akan muntah. Padahal biasanya kalau makan bakso, saya suka sampe benar – benar habis.
Setelah semua selesai, kami berlima pun beranjak pulang, tapi tidak langsung ke kosan karena ke warnet dulu (sudah diceritakan di postingan sebelumnya). Di perjalanan, kami tertawa dan ternyata tidak hanya saya yang merasa demikian, tetapi semuanya juga merasakan hal yang sama. Dan saat itu pula kami kapok untuk makan di situ, *ops kami? maaf itu menurut saya entah yang lain, mungkin ya mungkin juga tidak.

Referensi :

4 komentar: