Translate

Jumat, 27 Desember 2013

UPACARA ADAT DIES NATALIS POLBAN



Waw! Akhirnya semua telah usai. Pertunjukkan ini benar – benar telah berakhir. Suatu pencapaian yang didapat dengan hanya beberapa kali latihan. Walau belum sempurna namun sepertinya sudah cukup menghibur. Ya, kurasa begitu jika dilihat dari antusiasme para penonton saat itu.
Jumat, 20 Desember 2013
Hari ini merupakan salah satu hari yang ditunggu – tunggu oleh ormawa – ormawa yang ada di kampusku. Bagaimana tidak, hari ini terdapat acara “Dies Natalis” yang disertai dengan sertijab akbar dari hampir semua organisasi mahasiswa yang ada di sini. Mulai dari serah terima jabatan ketua MPM, BEMa, UKM – UKM, serta Himpunan – Himpunan yang ada. Namun tidak hanya itu, acara ini juga diisi dengan penampilan beberapa UKM seni di antaranya UKM Kabayan, UKM Musik, dan UKM UKBM. Ada pula penampilan dari salah satu himpunan.
Yang membedakan acara ini dengan tahun – tahun sebelumnya yaitu tahun ini di awal acara pembukaan diisi dengan upacara adat yang dipersembahkan oleh UKM Kabayan. Seperti upacara adat biasanya, terdapat lengser “Abah dan Ambu”, umbul – umbul, payung, dan tari. Namun yang berbeda adalah yang menjadi sasaran utama yang akan diarak. Biasanya adalah sepasang pengantin, tapi pada acara ini yang diarak adalah para ketua organisasi mahasiswa yang akan turun jabatannya. Sehingga hanya beberapa orang saja yang dipayungi.
Setelah beberapa kali gladi bersih, kami pun bersiap – siap untuk tampil yang “katanya” akan dimulai ba’da ashar. Sehingga ketika waktu ashar tiba, kami tidak diizinkan untuk bersantai – santai dan berpencar, namun tetap stand by di backstage pendopo. Setelah kami semua siap, pengatur acara mengatakan bahwa pembukaan dimulai pukul 16.45 WIB. Sambil menunggu, kami melakukan pemanasan dengan bermain gamelan. Ketika jam menunjukkan pukul 16.45 WIB, belum ada ormawa yang masuk ke pendopo. Yaa beginilah bangsa kita yang sudah terkenal dengan budaya ngaretnya. Sampai pada pukul 16.56 barulah ada satu himpunan yang masuk pendopo. Menunggu kembali. Lalu masuklah himpunan selanjutnya yang kemudian mengatur barisan karena tempat yang terbatas dan begitu seterusnya hingga waktu menunjukkan pukul 18.05 WIB yang artinya waktu maghrib telah tiba. Aku kesal dengan semua ini, ini lebih ngaret dari yang aku kira. Dan akhirnya kami diberi waktu untuk istirahat shalat maghrib.
Seperti yang sudah aku kira sebelumnya, pasti akan ngaret pula setelah maghrib. Dan ternyata memang benar, barisan masih harus diatur – atur kembali. Hingga akhirnya ketika hampir isya, acara pun dimulai. Itu artinya upacara adat sebagai pembukaan dimulai juga. Yap kami pun beraksi. Ketukan kendang mengawali musik sebagai komando. Alunan musik gamelan yang kami mainkan mengiringi jalannya upacara.
Upacara adat dimulai dengan pembacaan sajak terlebih dahulu oleh temanku yang tidak lain dan tidak bukan adalan Tomi. Dia membaca sajak dengan penuh penghayatan. Dan penonton yang merupakan kesatuan Kema Polban sepertinya memperhatikan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya (?). Setelah itu, lengser “Ambu dan Abah” pun beraksi. Semua penonton sepertinya sangat terhibur dengan penampilan mereka, padahal sebelumnya ketika latihan tidaklah sekocak itu. Mungkin karena efek dubber dari Tomi dan Yeni, sehingga Anton dan Roro menjadi lebih enjoy dan dapat membawa suasana atau mungkin juga karena efek make up dan kostum yang membuat mereka menjadi lebih percaya diri. Who know?
Setelah itu, bagian umbul – umbul yang tampil. Terdiri dari empat orang mahasiswa putra yang hanya aku kenal wajahnya saja (maaf gk disebutin personelnya). Kemudian, dilanjutkan dengan payung yang dipegang oleh Andris. Saat itu sempat ada kesalahan dalam musik yang sebagian memainkan musik untuk yang tari, namun dengan cepat hal itu dapat dikendalikan dan upacara berjalan normal kembali. Barulah setelah itu tari badaya ditampilkan. Tari ini diperankan oleh delapan orang mahasiswa putri yang hanya aku kenal sebagian namanya (maaf gk disebutin personelnya “lagi”).
Lengser sudah, umbul – umbul sudah, payung dan tari sudah. Inilah saatnya mengiringi pengantin yang dalam hal ini adalah para ketua ormawa. Para ketua ormawa berbaris dan diiringi para pemain upacara adat. Dan setelah itu selesailah upacara adat dari UKM Kabayan. Akhirnya semua pihak yang terlibat dalam upacara adat dapat bernafas lega karena telah menampilkan pertunjukkan yang cukup menghibur.
Kemudian, acara dilanjutkan dengan serah terima jabatan UKM – UKM diselingi dengan penampilan dari pengisi acara lainnya. Setelah semua UKM serah terima jabatan dengan ketua yang baru, barulah kemudian serah terima jabatan Himpunan dan Ikatan. (maaf detailnya tidak diceritakan di sini J)
Mungkin sekian yang dapat saya ceritakan. Mohon maaf apabila ada salah kata yang menimbulkan adanya pihak yang menjadi tersinggung, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Semoga catatan ini menghibur dan bermanfaat khususnya untuk saya, umumnya untuk semua yang membaca. Atas perhatian saya ucapkan terima kasih.
Special thanks to :   UKM Kabayan, Pak Ujang, Aa – Aa bale desa yang namanya tidak bisa saya sebut satu per satu, Ketua UKM Kabayan yang baru dan baru lengser (A Regi dan A Ogie), Aminah (saron), Tsani (saron), Teh Luthfi (bonang), Ahmad (kendang), Tomi (kendang, dubber) A Chandra (suling, dkk), A  Ari (saron), Titim (goong), Lethi (jengglong), Delia (goong), Yeni (dubber), and all personel UKM Kabayan yang gk bisa aku sebutin satu per satu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar