(Niat banget harus menulis ini agar senantiasa bersyukur. Ditulis tanggal 16 Juli 2021, tapi telat upload hehe)
Minggu, 27 Juni 2021
Suami swab antigen untuk syarat WFO hari Senin, hasilnya reaktif. Lalu tes PCR, hasilnya baru keluar 2-3 hari ke depan.
Rabu, 30 Juni 2021
Hasil PCR suami positif. Aku langsung tes PCR karena memang sudah berjarak 3 hari.
Kamis, 1 Juli 2021
Hasil PCRku positif juga. Lanjut isoman sekeluarga.
Selasa, 13 Juli 2021
Kami tes PCR lagi, alhamdulillaah sudah negatif.
Selalu ada hikmah dari suatu kejadian. Positif Covid-19 kemarin buat aku merasa jadi orang yang paling beruntung. Banyak hal yang harus berkali2 disyukuri atas kejadian ini. Alhamdulillaah aku dan suami OTG. Anakku? Sehat, normal, ceria seperti biasa. Ga ada tanda2 orang sakit. Dia bahkan ga ikut swab karena setelah tanya ke dsa, jika tidak ada gejala ga perlu swab tapi ikut isoman dengan orangtuanya, alhamdulillaah. Dari awal pun rencananya memang kalau anakku swab dan hasilnya negatif, akan tetap bersama ortunya. Pertimbangannya karena masih bayi, masih minum ASI, lagi manja2nya sama ortu. Kalau dipisah, yang ada anaknya rewel, ortunya kepikiran, sedih, imunnya turun. Ya kan? Ya dong!
Klo dengar cerita teman atau keluarga yang positif rata2 (hampir semua) kena anosmia, hilang indra perasa dan penciuman. Alhamdulillaah aku dan suami tidak. Masih bisa makan enak, masih bisa cium aroma keringat anak yang bikin candu, normal seperti biasa. Alhamdulillaah. Bahkan selama isoman, aku bisa mencoba resep2 masakan baru dan membuat cemilan untuk anak (dan ortunya, hehe). Isoman produktif ya bun. Giling teroos.
Saat suami dapat hasil positif, kami langsung lapor ke RT dan satgas Covid-19 di sini. Satgasnya gercep langsung semprot2 disinfectant depan rumah dan bawain bahan pangan, masker, hand sanitizer dan vitamin untuk isoman. Alhamdulillaah dikelilingi orang2 baik (tetangga, saudara, teman) yang kirim makanan ke rumah. Kami tidak dihubungi oleh pihak puskesmas saat itu, mungkin karena kasusnya sedang naik sehingga mendahulukan pasien yang lebih membutuhkan.
Selama isoman, belanja kebutuhan pokok full online. Alhamdulillaahnya di perumahan tempat tinggalku memang ada grup jual beli yang bisa DO (delivery order). Memang dari awal aku tinggal di sini juga sudah biasa pesan DO gitu karena sudah pandemi dan lumayan jauh ke mana2. Ya ada sih yg bisa jalan kaki tapi klo ada yg bisa DO kenapa harus keluar? Gini emang anak rumahan banget aku tuh. Bedanya selama isoman semua transaksi bayarnya melalui transfer. Selain karena mengurangi kontak fisik, juga karena emang ga ada uang tunai. Ya kapan mau ambil uang kan isoman. Beruntungnya ada pandemi saat teknologi sudah secanggih ini. Butuh apa2 bisa pakai HP, pesan ini pesan itu, bayar ini bayar itu tinggal klik klik aja selesai (asal ada uangnya). Oke aku tau, ga semua orang punya privilege seperti ini. Makanya harus bersyukur lagi, alhamdulillaah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar